Rabu, 16 April 2014


Rasanya Hambar

Sebut saja namaku “Steve”, seorang anak laki-laki dari keluarga yg berada. Aku termasuk type anak yg mandiri : Mandi, cuci baju sendiri.
Dari kecil aku terbiasa dengan hidup yg sederhana, walaupun sebenarnya orang tuaku mampu memenuhi ini itu yg aku butuhkan. Sebab bagiku apalah arti aku sebagai lelaki jika hanya berpangku pada apa yg orang tuaku punya, lagi pula sekarang umurku sudah beranjak 18tahun. Sudah seharusnya aku merawat diriku sendiri, mencari uang sendiri, dan membina diri untuk menenentukan mau jadi apa diriku kelak. 6 bulan lebih aku menjomblo, dikarenakan aku terlalu sibuk dengan duniaku sampai-sampai tak memikirkan untuk berpacaran. Aku memang jomblo, tapi bukan berarti aku tak laku! Banyak perempuan diluar sana yg tertarik padaku, dan kata mereka sih aku ganteng, keren, putih, tinggi, lantas kenapa betah berlama-lama menjomblo? Ahh, buatku tak pentinglah semua itu. Kelak pasti aku akan menemukan seseorang yg mencintaiku dengan kesepenuhan tulus hati dan mau menerima kesederhanaanku. Sebab aku tak mau mempunyai pasangan yg hanya menilaiku dari fisik, terlebih dari drajat keluargaku yg adaan ini! Gak. Gak mau aku.
Dan yg jadi alasan kuat kenapa aku menjomblo itu dikarenakan : aku belum bisa Move-on! Ya ya ya, itu penyakit anak muda dijaman sekarang. Begitukan?
Hatiku sepenuhnya masih tersangkut pada satu sosok, wanita, lebih tepatnya mantan pacar. Sebut saja namanya “Viona”, seorang gadis polos yg jelita, tak kalah lah dengan artis-artis korea sana. Selama hubungan kami putus kami tak pernah stop kontek-kontekan, masih memberi kabar, dan masih memberikan perhatian. Walaupun  perhatiannya itu tak seperti dulu sebelum “Pisah” menjadi jalan utamanya.
Selepas aku pulang dari tempat kerjaku aku berniat mengajak dia jalan. “Nonton”. Setelah hampir tujuh bulan tak bertemu pasti rasa kangen sih ada, 7bulan gitu loh!
“Vio... hari ini kamu libur kerja ya?” pesan singkat ku lewat sms.
“Iya steve..” jawabnya singkat.
“hmm,, nonton yuk!” cepat balasku to the point.
“ayok!” begitupun balasnya yg singkat, namun pasti.
“Oke, nanti sekitar jam 2an aku jemput yak!” balasku.
“oke, ditunggu..”
........ percakapan dihentikan...
Berhubung aku ini orangnya sederhana, jadi aku tak perlu repot2 memilih pakaian apa yg akan ku kenakan nanti. “Sweater kesayanganku + jeans biru”.
“Vio, kamu sudah rapih?” pesanku yg terburu-buru karna ingin bertemu.
“Sudah, kamu jemput aku aja sekarang”
“oke, 5menit.” Jawab ku cepat, karna kebetulan rumahku dan rumahnya tak terlalu jauh.
Kami bertemu ditempat biasa, kira-kira 5meter dari rumahnya. Sengaja aku tak menjemput dirumahnya, karna aku malu sudah lama tak bertamu ke rumahnya.
Tujuan aku mengajaknya nonton disalah satu mall yg agak terlalu jauh dari rumahku, itu supaya aku bisa berlama-lamaan dengan dia. Hehehe
Sepanjang perjalanan kami sempat bercerita kisah masing-masing dari kita, tentang kerjaan, sampai siapa-siapa saja yg mencoba mendekati hati kita masing-masing.
Sesampai disana aku lekas menggenggam tangannya yg mungil, agar kami berjalan agar lebih cepat, soalnya aku takut tertinggal jam tayang.
Ada yg berbeda darinya. Bukan Cuma dari rupanya yg semakin dewasa, tapi juga tangannya. Terasa dingin, hambar, berbeda tak seperti dulu saat aku juga pernah menggenggam tangannya.
Etah apa yg membuatnya beda, apa mungkin 7bulan itu sudah ada sosok yg menggantikan genggamanku kepadanya? Ahhh, aku tak perduli. Apalah artinya aku sekarang baginya, yg tidak lain hanya sekedar “Mantan pacar”. Ya, mantan pacar.
Didalam lobby kami melihat-lihat film apa yg tayang sekarang, dan kami sangat tak suka film2 yg berbau lebay, dramatis gitu deh!
Fix! Film horror yg akhirnya kami pilih.  Selain lebih menguji adrenalin, dan pastinya suasana ruangan gak sunyi. Aku memilih kursi dengan jarak yg tidak terlalu jauh dari layar, dan tak terlalu dekat pula dari layar. Tengah! Sepertinya sangat ideal bagi anak muda seperti kami.
Baru awal film dimulai saja suasana menggeram, jerit-jerit kagetpun terngiang ditelinga, seram.
“Kamu enggak takut kan?” tanyaku berharap dia takut lalu memelukku.
“hehe, enggak donk kan aku pemberani!” jawabnya seolah dia sudah sangat akrab dengan pemeran hantu itu.
“ahh, yg bener. Oke deh buktikan saja!” ucapku yg seakan enggak percaya dengan keberanian dia.
*... aaaaaaaa...* jerit jerit sana sini dari isak penonton menyelimuti seisi ruangan.
Sesekali ku tatap raut mukanya yg agak sedikit kaget gitu, namun aku pura-pura tak tau aja.
Inti film semakin menjadi, dan sebuah suara mengagetkan kami *whaaaah!* hantu itu muncul dengan wajah yg jauh dari bagus, ya teramat buruk.
Terasa ada yg mencengkram kuat jemariku, kuat semakin erat.
“kamu takut? Katanya berani! :p” tanyaku yg menyindir keberanian dia itu.
“ahh, enggak. Cuma kaget aja kok!” jawabnya dengan raut wajah yg mungkin terlihat merah bila berada dipenerangan.
Ku sampaikan jemariku dengan kembali menggenggam jemarinya yg mulai dingin, dan itu sama, sama rasanya seperti saat tadi aku berlari-lari kecil menggenggam tangannya menuju bioskop. Rasanya hambar, seperti masakan kurang garam, dan juga kurang pedes. Aneh, seperti bukan tangan lembut yg hangat yg pernah aku genggam dulu!
Mungkinkah sejak perpisahan itu dia sudah menemukan seseorang yg mampu menggenggam tangannya erat? Menghangatkan jemarinya dikala dingin menyelimutinya? Hal yg serupa dulu pernah aku lakukan. Ahh, bodo amatlah. Dia tetaplah dia, dan dia tetaplah yg masih ku tulis namanya dalam hati. Walaupun sekarang bukan lagi milikku, walaupun jemarinya sudah tak sehangat dulu, itu tetap kamu.
Kamu : yg tetap aku kenang, biarpun rasa nya itu hambar.




@Noo__ARZ                    

Jumat, 11 April 2014

Mungkin kamu tak tahu 



       Kemarin, tepatnya pada tanggal 11April, dimana itu hari yg sangat special bagiku. Iya, tanggal kelahiranku, yg telah menjadi genap 20th.

Aku teramat bersyukur karna dihari itu Tuhan masih mengizinkan aku untuk bernafas, menikmati eloknya duniawi, masih bisa bersuka ria mengingat betapa kecilnya aku dulu. Dulu, sebelum perubahan jaman merubah total keadaanku begitupun dengan cerita hidupku.

Puji syukur teramat puji, tak lelahpun ku ucap kepada Sang Maha dari yang paling Maha ; Allah swt. Karna_Nya aku masih diberikan kesehatan, nikmat yg teramat banyak, serta dikelilingi sekumpulan orang-orang yg masih setia menemani.

Buat mamah dan ayahku : Terima kasih pula ku haturkan tak kalah hebatnya, karna tanpa bimbingan mereka aku tak mungkin bisa tumbuh setumbuh ini.

Buat para teman-temanku : Terima kasih juga buat kalian yg tak lupa dengan hari bahagiaku ini, tanpa kalian aku tak akan sehidup ini menjalani hidup tanpa pertemanan.

Dan buat kamu : Mungkin kamu hanya lupa tentang hal yg membuat aku terlahir didunia ini, hingga hari yg sangat special ini kaupun tak ingat. 

Bagiku tanpa adanya kalian semua aku tak mungkin sebahagia ini, walaupun ada yg kurang. Kebahagiaanku ini tertunda, sebab orang yg aku anggap begitu dekat denganku sepertinya lupa. Lupa jika kemarin adalah hari kelahiranku. Bagaimana aku bisa seutuhnya merasa bahagia? sedang hal seperti itu saja dia melupa. Padahal aku sangat mengharapkan kamu itu mengatakan sambil mendo'akanku dengan kalimat yg indah yg tak akan mampu ku lupa, tapi sepertinya untuk mengingat atau mengetahui itu saja kamu tak bisa.

Aku kecewa, terlebih kecewa disaat hari bahagia ini kaupun tak ada menyerta. Asal kamu tau kamulah satu-satunya orang yg sekarang masih perduli dengan hidupku, tak jua jiji kamu hatamkan rasa perhatianmu kepadaku.  Kamulah satu-satunya orang yg ku punya, setelah disaat ada orang lain yg masih memiliki ku dan aku lebih memilih untuk sendiri. Dulu memang dia yg selalu ingat dengan kelahiran ku, selalu perhatian denganku. Tapi itu dulu, dulu sebelum semua menjadi saling melupakan.

Jujur sih aku merasa sangat kehilangan sosok seperti dia, disaat seperti ini akupun membatin. Tapi aku yakin jika kelak akan ada sosok yg jauh lebih baik dari dia. Dan itu ; kamu. Kamu yg sudah aku pilih sebagai pilihan hati, walaupun hatimu jua sudah dimilikinya. Dan akupun semakin membatin. Kini harapanku telak sempurna jatuh pada hatimu, kamu yg menurutku belum jua bisa peka. Tapi aku bisa apa? menyentuhmupun aku tak bisa, gimana aku bisa memilikimu? Aku hanya mampu berdo'a kepada Tuhan "Jika benar dialah yg benar bisa membuat kesepian menjadi keramaian, eratkanlah aku semakin erat pada cinta yg ku bimbing ini. Padanya."

Dan aku percaya jika Tuhan tak tuli. Cepat atau lambat Tuhan pasti akan membukakan matamu, dan melihat betapa tulusnya aku mencintamu. 

"Love that goes with sincerity, can surely open the eyes did the heart."

Sepertinya aku mengharapmu terlalu jauh, hingga aku lupa dengan kebahagiaan kecil yg terlewat dan menjauh. Tapi apalah itu jelas aku bukanlah type orang yg mudah menyerah, sekalipun aku teramat lelah.

Bagiku mengharapmu adalah do'a yg selalu ku panjatkan kepada Tuhan agar dapat lekas membuatmu bahagia denganku, bukan dengan cintanya yg semu.

Apapun yg akan terjadi nanti aku telah pasrahkan hati kepada Tuhan. Memilikimu seutuhnya, atau bahkan hanya memilikimu dalam dunia semu, tak nyata. Lagi-lagi aku membatin.

Diumurku yg semakin bertambah ini jelas aku semakin harus bertujuan dalam hidup, mencintai dan dicintai itulah tujuanku. Merubah kesedihan menjadi kebahagiaan, Merubah kekanak-kanakan menjadi kedewasaan, walaupun saat ini aku belum bisa merubahmu sepenuhnya mencintaiku.

Walaupun kamu tak ingat dengan hari ulang tahunku, atau mungkin kamu tak tahu dengan hari yg menurutku ini bersejarah. Tak apalah! Aku masih mampu tersenyum, meskipun itu harus membalikan luka. Sebab bagiku kamu sudah tahu diriku saja aku sudah senang, apalagi jika kamu tahu semua tentang pribadiku!

"Kenalilah diriku, sebelum kamu mengenali semua tentang pribadiku."

Sudahlah, hari semakin larut. Percuma juga aku menunggu hal yg tak pasti darimu, meski itu cuma sekedar ucapan "Selamat ulang tahun". Aku rapopo, mungkin esok atau esok setelah esok kamu baru mengucapkan itu. Selamat malam, selamat memejam. Dhedoong! :")

Hari Bahagia

Langit yg begitu sempurna
Gemerlak bintang dan jua bulan yg mempesona
Suatu kado terindah dari Tuhan kiranya
Tepat dimana ini hari bahagia

Dalam sujud ku panjatkan do’a
Beribu ucapan syukur telah ku haturkan kepada-Nya
Dialah Sang Maha dari yg paling Maha
Allah Taala

Teringat dimana lalu tubuhku masih memungil
Bahkan jemariku terlihat sangat kerdil
Sekejap terlihat lebih dewasa
Sampai jatuh pada yg namanya “cinta”

Tuhan, Engkaulah Maha pengasih
Beribu syukur ku ucap atas umur yg Kau kasih
Atas semua orang yg mencintaku tanpa belas kasih
Terima kasih..

#puisi #@Noo__ARZ

Senin, 07 April 2014

Tertegun menunggumu, Dhedoong





            Lagi-lagi malam menjadi alas di-mana aku berteduh, meluapkan semua pilu. Lagi-lagi malam lebih pas dimana aku bisa bersembunyi, menyisihkan ingatan tentang seseorang yg selalu ku rindui.
Dengan langit mengabu seolah tahu akan isi kalbu. Di hiasi gemerlak bintang yg berjolak berkedip dengan genitnya. Kamu, apakah tahu disini aku teramat merindumu? Memikirkan hal-hal yg lucu disaat bersamamu, canda tawamu yg begitu menggebu. Dalam ingatanku.
Sayup-sayup angin mengibas poni tipis rambutku dengan lembutnya, sesekali kekelawar berterbangan seolah menari-nari.
Malam memang selalu cocok sebagai tempat dimana aku menghabiskan waktu, mendengarkan lantunan syair musik menambah ketenangan hatiku semakin menggebu-gebu.
Kamu ; Apa yg selalu jadi inspirasi dalam semua tulisanku, dan karnamu aku mampu menggerakkan jemari kecilku untuk menuliskan kata-kata yg enggak begitu indah ini.
Kamu ; Hal yg selalu aku ingat, suatu hal yg membangkitkanku dari yg telah aku tak ingat.
Perpaduan kondisi malam yg sunyi dan kamu yg membuat aku termotivasi, membuat jemari kecilku menari-nari di atas papan ketik yg belum lama aku jadi sering mencurahkan apa isi hati, disini.
Tahu kah kamu? Ada banyak kata yg ingin aku hantamkan keras didepanmu, dengan hati yg meluap akan banyaknya kata-kata untukmu.
Tahu kah kamu? Setiap hari aku menyiksa diri hanya karna sebuah rindu, yg semakin hari semakin membumbung tinggi dalam benakku.
Ahh! ku rasa kau sama sekali tak perduli itu. bukan?
Biarlah rindu ini semakin membeku, dalam relung palung jiwaku. Cukup aku, Tuhan yg tahu.
Sesekali aku coba mengajakmu bertemu, kiranya itu dapat membasuh rinduku yg sudah sangat kaku.
Namun alam berkehendak lain, seolah tak mengijinkan pertemuan itu terjadi. Aku membatin.
Kesal teramat kesal, tapi apa daya kata-katamu selalu meyakinkanku akan sebuah kesabaran.
Entahlah, sampai kapan aku terus menyiksa diri, karna rindu yg belum juga terobati.
Apalah aku ini? Tak pantas pula aku merindumu, jelas seutuhnya rasamu telah direnggut olehnya, orang yg sukses membuatmu menunggu. Meski itu harapan palsu.
Salah teramat salah jika aku tetap bersih keras mengejar cintamu. Tapi salah kah aku bila berusaha terlebih dahulu menantimu? Walau hanya bualan semata, jelas itu sakit. Teramat sakit.
"Bukankah cinta itu harus diperjuangkan? apapun kendala yg menghadang. perduli amat!"
Ibuku juga selalu berpesan "Jika dia cintamu, kejarlah! raihlah dia sampai diusaha terakhirmu"
Kata-kata ibuku itu lebih tepatnya nasihat untukku, yg selalu jadi pembangkit dalam jerih payahku.
Sesekali aku pernah mengungkapkan padamu, walau sesekali pula kau anggap itu lelucon. Pedih teramat sedih terasa hambar mengapung dilautan.
Sesekali pula kamu juga sering bilang kalau "Kamu tak ingin kehilanganku, kehadiranku sangat berarti untukmu". Arrgght! Kalimat itu selalu ternghiang dalam ingatanku, seolah harapan semakin tumbuh dan berkembang.
Siapalah aku? yg lebih pantas disebut dengan "Pengagum". mengagumi segala keindahan yg Tuhan ciptakan, dalam dirimu.
Cinta? Bukan cinta yg kamu rasa, itu jua hanya sebagai pengagum, mengagumi segala ketulusanku menyayangimu, menenangkanmu dikala pilu.
Andai langit bisa berbicara, lewat hujan menyampaikan segala perasaanku terhadapmu. Tahukah kamu? aahh,  jelas kau tak pernah tau itu.
Dibawah langit aku berteduh, bercerita dengan sendu. Dibawah langit pula aku menuliskan semua kesal risalku padamu, lebih tepatnya pada cintamu.
Cinta membuat aku gila. Terlebih gila karna aku selalu mengharapmu. Walau aku sadar bahwa jauh direlung hatimu jelas terukir namanya, bukan namaku. Gila bukan?
"Cintaku ini tulus, dhedoong. Tidakkah kamu mengerti itu? Disini aku melatih kesabaran, menunggu kamu hingga beralih melupakannya memindahkan kepadaku semua perasaan."
"Cintaku ini fakta, dhedoong. Tidakkah kau fahami itu? Berkali-kali aku menghunjammu dengan perhatian yg teramat lebih, hingga lukamupun sampai pulih".
Lihatlah kebelakang, dhedoong. Disini Aku tertegun menunggumu. Menunggu jawaban akan semua yg telah aku lakukan. Bersamamu aku nyaman, begitupun yg kamu rasakan. Bukan begitukan?
Aku tau jika cinta itu tak mesti memiliki, tapi apa aku sanggup menjaga seutuhnya cintaku ini seperti cintamu padanya? Ahh,, jelas aku meragukan itu.
Sudahlah cukup aku menyimpan sendiri perasaan ini, sehari, berharihari, berbulan bulan, bahkan tahunan tetap akan ku simpan dalam hati. 
Tapi ingatlah, Disini aku tertegun menunggumu. Cintamu : dhedoong. :")

Minggu, 06 April 2014

Hujan tak selalu salah




  Minggu yang bisa dibilang bukan lagi pagi, bahkan sudah tak ada lagi sejuknya sinar mentari. Ya, gw kesiangan.
Tepat pukul 11.10 gw terbangun. Bukan lagi pagi bukan? Tapi dengan kebodohan gw masih saja mengawali sapaan ditwitter dengan : "Selamat pagi, wekend! *kucek2 mata*". Ya itulah gw yang tak perduli apapun kata orang lain, nge-tweet seenak jidad gw saja! hehehe
Sudah sewajarnya sih bagi anak cowok bangun siang pada waktu libur. Bukan begitu bukan? *masih aja ngotot sesuka hati*
Gw ini orangnya cepet lupa, bisa dibilang "Pelupa". Wajarlah kalo lupa kan enggak inget!
Karna kesiangan gw jadi lupa kalo pagi ini ada ngisi ekskul direngas, lupa kalo paginya gak sarapan, lupa kalo gw masih tetep jomblo, tapi tetep aja gw enggak bisa lupain dia!
Siang ini gw bingung mau kemana, dengan siapa, bahkan bingung harus mandi atau tidak. Secara minggu itu terkenal dengan "Libur Mandi". *masih menurut otak gw*
Drrrtt.... Drrrtt.... Hp gw bergetar. Secepat kilat gw membuka pesan, entah dari siapa, dan ada apa.
Sekejap mata yg tadinya males melek, masih ingin merem, mendadak seger. Ya, itu karna orang yang gw sayang menyapa dengan kata-kata yg menurut gw gak romantis tapi dapat buat gw senyum-senyum sendiri.
Timbulah niat gw untuk ngajak dia keluar yang sebenernya gw sendiri enggak tau mau ngajak dia kemana, aneh!
Kalo menurut gw sih "Asalkan sudah ketemu dan bersama dia aja gw sudah cukup seneng". Memang terkadang cinta bisa buat kita lupa akan segalanya.
Bermula dari pertanyaan bodoh gw disms "Kamu sudah makan?" yang padahal gw sudah tau jawaban dia.
 "Belum" singkat jawabnya.
"Duuh, kamu tuh kebiasaan deh. Lekas makan sana! Aku gak mau kalo kamu sampai sakit. jelas kalo kamu sakit nanti, siapa yang akan menyakiti aku?" reply pesan gw yang agak lebay.
"Hehe, iya nanti'. begitupun pesan singkat yg dia balas.
"Yaudah kita makan diluar aja gimana?" timbulah ide gila gw untuk mengajak dia ketemu. *iya panas2 tengari bolong, ngajak keluar. Gila gak?*
"hmm, aku lagi males makan. tapi aku BT! :(" balasnya dengan jawaban yg sedikit buat gw bingung.
"Tapikan kamu harus tetep makan tau!" memaksa dia agar tetap mementingkan makan.
"Iya nanti, ya." jawab dia dengan perkataan yang bikin gw sedikit jengkel.
"hmm, yaudah kita nonton yuk?" gw berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi dengan tujuan tetep ingin ketemuan. *egois*
"hehe, aku belum berani. :D" jawab dia dengan jelas. dia tuh takut nonton dibioskop, entah karna pengalaman apa yg menakutkan, yg buat dia takut yg udah dia lihat sewaktu dibioskop. intinya : gelap. *sok tau*
"hmm, masih aja takut. kan ada aku, sepenuhnya aku akan menjagamu dalam kegelapan diruang sana." balas gw dengan mencoba buat dia percaya dengan yg gw katakan.
"hehe, gak ah. aku belum berani." jawab dia yang bikin otak gw berfikir keras.
"hmm, yaudah gimana kalo ke-gramed?" singkat gw dengan harapan masih sama. *agar bisa ajak dia keluar*
"hmm, ngapain? enakan ketempat galau." balas dia seolah menolak ajakan gw mentah-mentah.
"Ngerampok! ya keluar aja tau, sekalian liat-liat buku." jawab gw sedikit sewot, walaupun sebenernya bercanda. hehehe
____________ *sunyi tak ada balasan*
Gw udah hapal banget dengan sikap dia kalo udah gak bales pesan dari gw. yupz! ketiduran. prrffft....
Oke gw putuskan untuk tetep keluar rumah walaupun sendirian, kali aja dapet pacar orang. *ehh
Bergegas gw mandi biar keliatan putih, yg padahal tetep aja item. :(
Setidaknya gw wangilah, enggak bau kambing gitu! gw item juga item manis kalik. hehehe *kata orang sih gitu*
Udah wangi, udah rapih, udah kece pula. tapi tetep aja jomblo! :(
Ahh, langsung aja berangkat. peduli amat! kali aja disana gw nemu malaikat.
Terik matahari sangat menyengat, lekat. gw putuskan pakai helm, dan tujuan gw ke-Cbd. Mall favourite gw sama si @winmister. entah kenapa semenjak dia sering ajak gw kesana, belakangan ini gw jadi sering kesana. Padahal gw sangat benci mall, penuh pengunjung, ramai, bikin puyeng, tapi karna keseringan mungkin yang buat gw terbiasa.
Niat gw sih cuma mau liat jadwal film terbaru, sama nyari buku di-gramed. *itung-itung ilangin BT (Bosen tau)*
Ya ya ya, gw lupa kalo ini hari minggu. Dimana mana macet, dengan berlebihnya jumlah kendaraan yg dipergunakan. Panas! macet pula. gw benci semua itu. Kenapa orang-orang lebih memilih menggunakan kendaraan, ketimbang berjalan kaki? ya, karna ingin mempercepat dan nyaman dalam perjalanan. padahal dengan jumlah kendaraan yg bejibun buat jalan semakin padat, polusi, kecelakaan sering terjadi. Ahh! entahlah, peduli amat tentang apa yg mereka fikirkan.
Tinn tinn! klakson gw berbunyi menandakan gw mau cepat dapat tempat parkir, iyalah gerah banget gw pake helm, pengen cepet2 masuk mall. ngadem. :D

Berjalan pelan so cute selangkah demi langkah menghampiri pintu mall. dengan kaca mata yg gw kenakan yg sekarang jadi kebiasaan gw. dengan jaket berbahan parasut serupa basseball, kaos berwarna merah*Warna favorite gw*, jeans panjang, dan ngerangkul tas. Nyuusss. berakhirlah udara panas setelah masuk pintu mall. *Norak*
Berjalan cepat tak peduli menabrak orang sekalipun, naik eskalator hingga lantai paling atas *Bioskop*, dan ternyata filemnya yg udah gw tonton semua. lekaslah gw turun lalu ke-gramed, *Novel im combiing*
Setelah sejaman gw bolak balik lihat novel apa yg bagus, hingga tuntaslah pencarian gw pada novel "Rain & Tears, until the last day in my life" karya faisal oddang. Entah kenapa gw juga bingung kenapa gw lebih memilih novel ini ketimbang yg lain, serasa ada magnet aja dalam buku itu yg memaksa mata gw untuk lekas membacanya. yayaya, gw tau itu berlebihan. prrfft...
Gw suka heran dengan seisi gramed itu, apa coba yg mereka perhatikan dari gw? Gw tau kali kalo gw tuh manis, tapi gak segitunya juga keleeuus! emang gw gula, yg diincar gerombolan semut!
Lama-lama gw risih juga diliatin gitu, serasa ada yg mereka mau dari gw. Langsung ajalah keluar. *yg sebelumnya telah membayar dikasir, yg embak-embaknya judes*

Tetiba terdengar suara bunyi serupa drum yg ditabu kencang oleh pasha ungu, drumer hebat dari band ungu itu! 
Lapar!! gw bahkan lupa dari pagi gw belum makan, alesan gw sih simple "Gw rela belum makan, agar bisa ngerasain apa yg dia rasain. masa gw enak-enakan makan, sedang dia enggak!" Perhatiankan gw? :') lebih tepatnya *prihatin* *telen ludah*
Entah kenapa gw masih yakin kalo sore ini gw bakal keluar lalu makan bareng dengan dia. Ngarep!
Sesampai dirumah gw langsung menyobek bungkusan novel tersebut, saking penasaran serta haus akan isi ceritanya. Berlebihan memang, tapi gw suka aja membaca, lalu terinspirasi dari kata perkata yg terangkai dari setiap novel, lalu menyatukan sesuai apa yg gw rasain. Seru. pasti!
Selagi asik-asiknya membaca, Hp gw un bergetar. Drreet.... Drreeet... lekaslah gw membacanya.. dan Ternyata bener dugaan gw, dia ketiduran bahkan tak sempat membalas pesan gw tadi. Seneng sih gw baca pesan dari dia kalo nanti malam dia ngajak keluarnya, mungkin sebagai rasa bersalah dia karna tadi ketiduran, atau mungkin dia kangen juga sama gw. mungkin!
Paslah suasana sore ini dengan menatap langit yg elok rupawan, layang-layang berterbangan, begitupun dengan hati yg senang. :')
Selesai adzan berkumandang gw langsung bergegas mandi, kemudian shalat magrib, dilanjutkan dengan senangnya hati karna ingin bertemu. orang yg disayang. :)*alay* "Terkadang karna terlalu mencinta, bisa bikin orang menjadi alay atau berlebihan, bertingkah aneh, lebih pintar ngegombal."
Selesai itu semua gw hanya duduk kece diatas kasur dengan mata menjajah kata demi kata dari novel yg gw beli tadi, sambil berharap dia sms kemudian siap gw jemput.
"Entah kenapa jika diri hendak bertemu dengan sang pujangga, hati ibarat mendapat pelukan dari Tuhan." menyenangkan bukan!
Gak lama kemudian dia mengirim pesan ke-gw,"Ayuk, mau nyari makan dimana?" pesan dia singkat namun menggembirakan.
"Hmm, aku mah ikut kamu aja deh." singkat gw seolah kebelet pipis. *eh kebelet ketemu
"Terserah kamu aja deh." lagi-lagi dia membalas dengan pertanyaan yg cukup bikin gw bingung.
"Yaudah Kita keluar aja dulu ya, sapa tau dijalan kita baru bisa memilih mau makan apa." jawab gw seolah ingin mempercepat smsn biar cepet ketemuan.
Bergegas gw menaiki motor gw yg bukan ninja, bukan juga vespa, apalagi mio. bukan! Intinya motorlah, bisa jalan pastinya.
Sambil mengendarai sepedah motor gw sambil membaca pesan dari dia,
 "Tapi bilangnya gimana ya?" tanya dia lewat pesan, seolah ragu dapat ijin.
"hmm, kamu bilang aja mau nyari makan diluar sama temen." jawab gw seolah menenangkan.
"hmm, pasti enggak bakal boleh tau." jawab dia seolah sudah tau jawaban dari orang tuanya.
"hehe coba dulu tau, enggak ada salahnya dicoba kan?" jawab gw yg masih seolah yakin dia bakal diizinin.
Secara dia itu cewek yg masih sangat polos, enggak pernah keluar malem, jadi wajar susah banget dapet ijin dari orang tuanya. yayaya semua itu karna khawatir, orang tua mana yg enggak khawatir dengan gadis kecilnya, apalagi keluar malem? walaupun waktu masih memukul pukul tujuh. Tetep aja susah buat dapet ijin.
Mendadak hujanpun turun. lebih tepatnya gerimis.
Gw benci hujan, teramat benci! bukan karna tak bersyukur dengan anugrah Tuhan, melainkan kenapa harus turun disaat waktu yg kurang bertepatan? Ahh, hati gw seolah ragu akan ketemu dirinya. Dirinya yg selalu gw damba, walau entah sampai kapan gw hanya bisa memuja. Bukan karna gw ragu akan dirinya, melainkan karna hujan yg jadi penghalangnya!
Ternyata gw salah, teramat salah. Dia tak dapat ijin dari orang tuanya, katanya sudah malam. 
Arrgght!! gw benci malam ini, gw benci semua ini. Seakan Tuhan tak mengizinkan gw bertemu dengannya. Padahal gw baru aja merasa senang karna ingin bertemu, sedang tak sama sekali terdukung oleh waktu.
Dengan hati penuh kecewa gw terus melaju dengan motor yg gw kendarai, tak perduli apa yg akan terjadi nanti. Sesekali gw hampir tertabrak ataupun terserempet, dicaci orang dengan cibiran mereka karna salah gw mengendarai tanpa konsentrasi. Perduli amat!
Gw sama sekali tak menyesali itu, mungkin Tuhan memang belum mengijinkan kita untuk bertemu. Kecewa sih ada, tapi itu tak lagi berguna. Jelas "Dengan orang yg disayang, apapun bukanlah penghalang. Biar hatipun kecewa, perasaan yg mengikhlaskannya begitu saja."
Hujan masih tetap turun, semakin deras. Aku tak perduli sekalipun aku kuyup karnanya, sekalipun aku sakit terbasahi olehnya.
Aku sadar. "Ternyata hujan tak selalu salah. Dia lebih dahulu tau apa yg aku rasa, jauh dilubuk hati aku kecewa." Dan aku mengerti kenapa hujan turun dimalam ini "Sepertinya hujan begitu pekka, sehingga tangisku jua ia rasa. Tak perlu aku menangis, karna dia telah mencurahkan lewat gerimis".
"Hujan tak selalu salah, bahkan dia lebih mengerti dengan masalah".
"Terima kasih, Tuhan. Aku tak kau lupakan dengan turunnya hujan, mewakili perasaanku tanpa air mata yg tak perlu aku turunkan".
Sejenak gw mampir dipinggir jalan, tepatnya ditukang nasi goreng. Ngapain? ya makan oon! gw laper dari pagi belom makan, demi ketemu dia gw rela kelaparan.
Siluet lampu-lampu kendaraan, toko-toko disebrang jalan begitu mempesona. Sinar mereka memancarkan kekuatan, seolah ikut memelukku karna tau apa yg sedang aku rasakan. Ahh, semenjak mencintaimu aku jadi sering membayangkan hal-hal yg aneh, berimajinasi lebih tinggi, bahkan sampai aku tak sadar jika aku akan terjatuh.
Sudahlah! saat ini aku hanya lapar, ingin menyantap habis makanan ini. Termenung, memikirkan dia yg selalu gw sanjung. Tak perduli biar ku harus tersandung, biarkan aku meratapi kecewa ini dengan bersenandung. :")

"Bagaimana bisa aku menyalahkanmu? jelas mencintaimu buat aku memaavkan segalanya. Tak perduli dengan sakit dan kecewa, semua itu terlihat biasa".

"Aku mencintaimu teramat sangat. Hingga biarpun kecewa menghampiri, aku tetap tak perduli".

"Cinta tak pernah butuh alasan. Bagiku mencintaimu itu sebuah keikhlasan. Derita, luka, kecewa, sudah selayaknya mudah dimaavkan".

Ahh! gw benci sekali jika harus berbicara soal cinta. Sebab cinta tak akan cukup bila diungkapkan lewat kata-kata, tak akan cukup sekalipun dituliskan dibuku harian. Intinya cinta itu ; semua yg ada di hati.
Cinta itu sangat sulit jelaskan lewat perkataan, terlebih apalagi dibuku harian. tak cukup! Bagi gw "Bersamamu, menantimu, mengharapmu, adalah ketulusan yg terus aku pertahankan demi mendapatkan cintamu". Bodoh. memang! Cinta tak ada yg bodoh, tetapi kita yg sering terbodohi oleh rasa yg dikiranya cinta. Aku ini contohnya, bodoh.
Tak apalah walaupun tak bertemu juga. Biar rindu semakin membeku, hati tak karuan ingin bertemu. memelukmu, mendekapmu, memanja merenggut harum tubuhmu. Aku rindu! tahukah kamu? :')
"Rindu selalu datang disaat sela waktu tak menentu. Dia datang tak hanya bertamu, melainkan menetap dihati tertancap oleh paku. Kamu, Tahukah itu? aku sangat ingin bertemu".
Ahh! saking terlalu memikirkanmu gw jadi lupa beli pulsa untuk kaka gw. "Memang jika hati resah ingin bertemu, seringkali lupa menjamu".
Sudah, sudahlah! Mungkin Tuhan berkehendak lain. Pada waktunya nanti gw juga akan bisa dipertemukan olehnya, nanti! nanti dan nanti selanjutnya. :')
Terimakasih atas cintamu. Aku berjanji akan menjaga semua itu. Apapun yg terjadi nanti, kamu akan selalu dihati. I love you and i'm always missing you. Dhedoong!! :") <3

 


Hujan tak selalu salah





Rabu, 02 April 2014


Malam Membutuhkan Cahaya


Malam ; tepatnya dimana hati temaram, kelam, gelap dan semakin tenggelam.
Tahukah kamu disaat malam menyapa? Sepi. Hal yang selalu tak aku suka, namun sesuatu yang paling setia menemani.
Menatap langit yang bercorak hitam kelam, dengan tatap yang sadis seolah menghujam.
Terlihat dari kejauhan siluet-siluet lampu berterangan, seolah menghiasi malam yang selalu butuh penerangan.
Malam selalu membutuhkan “Bintang dan Bulan”, selain berguna untuk penerangan, mereka juga bisa dibilang sebagai teman.
Dengan pantulan cahaya mereka langitpun seakan tak lagi gelap, terang dan  gemerlang acap kali mereka berkedip.
Aku sangat cemburu, teramat sangat. Langit saja ada yang menghiasi, lalu siapa yang menghiasi aku punya hati? Perduli amat!
Waktu itu langit dalam keadaan mendung, tak begitu gelap namun tak jua terang. Dimanakah bintang ? Letihkah dia menemani bulan menghiasi malam pada saat itu? Satupun dari mereka tak ada yang tampak.
Termenung melihat situasi malam, dan akupun tetiba terdiam. Ada apa? Kemana dia? Apa dia telah lelah, sama seperti ku yang mulai jengah. Ahh! Jelas bintang tak secanggih hati manusia, itu kuasa Tuhan dan tak sampai pemikiran ku mencapainya.
Yang aku tahu : bintang itu sudah sangat akrab dengahku, dan dia jauh lebih pekka dari pada kalian! Dia selalu ada disaat malam menghunjamku dengan penuh kerinduan, dengan menatapnya dan mengirimkan seutas rindu yang cepat atau lambat kamu akan merasakannya perlahan.
“Entah kenapa kala rindu datang menyekka ku, aku jadi sering bertingkah aneh. Berbicara dengan benda, yang entah apa dia bisa mendengarkannya”
Saat itu hatiku tak lagi utuh. Sama seperti langit yang tak temu bintang. Gelap, sepi, sedih, resah, semua bercampur aduk layaknya adonan kue yg dibuat dengan air mata. Ahh! Terlalu berlebihan, intinya rasaku gundah tak karuan.
Bagaimana aku bisa bercerita kepada bintang, sedang langit dan bulan juga begitu membutuhkannya? Jelas malam akan selalu membutuhkan cahaya. Tanpanya langit  terlihat suram, tak elok, tak ada kedap-kedipan manja menyilaukan mata. Gelap. Lantas apakah bulan bersedih? Walau kehadirannya sangat dibutuhkan, sebagai teman penerangan.
Tidak! Aku salah, bulan seolah lebih tau dengan keadaan bintang pada malam itu. Seolah telah berpamitan, meminta absen tak dapat hadir. Bulan pun memakluminya, walau sebenarnya tak sanggup menerangi malam dengan sendiri.
“Terkadang seseorang merasa lemah bila tak ada orang lain yang biasa bersamanya, merasa tak yakin bahwa dirinya jauh bisa diandalkan walau sebenarnya dia mampu.”
Bulan saja bisa tetap bersinar walau tak ada teman yg sangat berarti baginya, masa aku enggak bisa? “Sejatinya memang sulit untuk tetap tegar, kuat melakukan suatu hal tanpa ada penyemangat hidup.”
Bulan tak pernah membenci bintang, sekalipun dia suka ilang-ilangan! Sampai kapanpun malam akan selalu butuh cahaya. Sosok bulan dan bintang sangatlah dibutuhkan dalam gelap. Siluet lampu, rumah, gedung-gedung cukup membantu suasana malam tak begitu suram.
Apakah “Kita” seperti bintang dan bulan? Yang saling membutuhkan, saling memaklumi dengan keadaan. “Cukup ada kamu di-sisiku, hari-hariku udah cukup jauh lebih terang, sayang.”
Semoga esok dan seterusnya malam tak lagi gelap tanpa tak adanya penerangan, dan bulanpun tak lagi merasa kehilangan bintang.  Selamat malam, selamat memejam! Laffuuu... <3