Rasanya
Hambar
Sebut saja namaku “Steve”, seorang anak
laki-laki dari keluarga yg berada. Aku termasuk type anak yg mandiri : Mandi,
cuci baju sendiri.
Dari kecil aku terbiasa dengan hidup yg
sederhana, walaupun sebenarnya orang tuaku mampu memenuhi ini itu yg aku
butuhkan. Sebab bagiku apalah arti aku sebagai lelaki jika hanya berpangku pada
apa yg orang tuaku punya, lagi pula sekarang umurku sudah beranjak 18tahun.
Sudah seharusnya aku merawat diriku sendiri, mencari uang sendiri, dan membina
diri untuk menenentukan mau jadi apa diriku kelak. 6 bulan lebih aku menjomblo,
dikarenakan aku terlalu sibuk dengan duniaku sampai-sampai tak memikirkan untuk
berpacaran. Aku memang jomblo, tapi bukan berarti aku tak laku! Banyak
perempuan diluar sana yg tertarik padaku, dan kata mereka sih aku ganteng,
keren, putih, tinggi, lantas kenapa betah berlama-lama menjomblo? Ahh, buatku
tak pentinglah semua itu. Kelak pasti aku akan menemukan seseorang yg
mencintaiku dengan kesepenuhan tulus hati dan mau menerima kesederhanaanku.
Sebab aku tak mau mempunyai pasangan yg hanya menilaiku dari fisik, terlebih
dari drajat keluargaku yg adaan ini! Gak. Gak mau aku.
Dan yg jadi alasan kuat kenapa aku menjomblo
itu dikarenakan : aku belum bisa Move-on! Ya ya ya, itu penyakit anak muda
dijaman sekarang. Begitukan?
Hatiku sepenuhnya masih tersangkut pada satu
sosok, wanita, lebih tepatnya mantan pacar. Sebut saja namanya “Viona”, seorang
gadis polos yg jelita, tak kalah lah dengan artis-artis korea sana. Selama
hubungan kami putus kami tak pernah stop kontek-kontekan, masih memberi kabar,
dan masih memberikan perhatian. Walaupun perhatiannya itu tak seperti dulu sebelum “Pisah”
menjadi jalan utamanya.
Selepas aku pulang dari tempat kerjaku aku
berniat mengajak dia jalan. “Nonton”. Setelah hampir tujuh bulan tak bertemu
pasti rasa kangen sih ada, 7bulan gitu loh!
“Vio... hari ini kamu libur kerja ya?” pesan
singkat ku lewat sms.
“Iya steve..” jawabnya singkat.
“hmm,, nonton yuk!” cepat balasku to the point.
“ayok!” begitupun balasnya yg singkat, namun
pasti.
“Oke, nanti sekitar jam 2an aku jemput yak!”
balasku.
“oke, ditunggu..”
........ percakapan dihentikan...
Berhubung aku ini orangnya sederhana, jadi aku
tak perlu repot2 memilih pakaian apa yg akan ku kenakan nanti. “Sweater
kesayanganku + jeans biru”.
“Vio, kamu sudah rapih?” pesanku yg
terburu-buru karna ingin bertemu.
“Sudah, kamu jemput aku aja sekarang”
“oke, 5menit.” Jawab ku cepat, karna kebetulan
rumahku dan rumahnya tak terlalu jauh.
Kami bertemu ditempat biasa, kira-kira 5meter
dari rumahnya. Sengaja aku tak menjemput dirumahnya, karna aku malu sudah lama
tak bertamu ke rumahnya.
Tujuan aku mengajaknya nonton disalah satu mall
yg agak terlalu jauh dari rumahku, itu supaya aku bisa berlama-lamaan dengan
dia. Hehehe
Sepanjang perjalanan kami sempat bercerita
kisah masing-masing dari kita, tentang kerjaan, sampai siapa-siapa saja yg
mencoba mendekati hati kita masing-masing.
Sesampai disana aku lekas menggenggam tangannya
yg mungil, agar kami berjalan agar lebih cepat, soalnya aku takut tertinggal
jam tayang.
Ada yg berbeda darinya. Bukan Cuma dari rupanya
yg semakin dewasa, tapi juga tangannya. Terasa dingin, hambar, berbeda tak
seperti dulu saat aku juga pernah menggenggam tangannya.
Etah apa yg membuatnya beda, apa mungkin 7bulan
itu sudah ada sosok yg menggantikan genggamanku kepadanya? Ahhh, aku tak
perduli. Apalah artinya aku sekarang baginya, yg tidak lain hanya sekedar “Mantan
pacar”. Ya, mantan pacar.
Didalam lobby kami melihat-lihat film apa yg
tayang sekarang, dan kami sangat tak suka film2 yg berbau lebay, dramatis gitu
deh!
Fix! Film horror yg akhirnya kami pilih. Selain lebih menguji adrenalin, dan pastinya
suasana ruangan gak sunyi. Aku memilih kursi dengan jarak yg tidak terlalu jauh
dari layar, dan tak terlalu dekat pula dari layar. Tengah! Sepertinya sangat
ideal bagi anak muda seperti kami.
Baru awal film dimulai saja suasana menggeram,
jerit-jerit kagetpun terngiang ditelinga, seram.
“Kamu enggak takut kan?” tanyaku berharap dia
takut lalu memelukku.
“hehe, enggak donk kan aku pemberani!” jawabnya
seolah dia sudah sangat akrab dengan pemeran hantu itu.
“ahh, yg bener. Oke deh buktikan saja!” ucapku
yg seakan enggak percaya dengan keberanian dia.
*... aaaaaaaa...* jerit jerit sana sini dari
isak penonton menyelimuti seisi ruangan.
Sesekali ku tatap raut mukanya yg agak sedikit
kaget gitu, namun aku pura-pura tak tau aja.
Inti film semakin menjadi, dan sebuah suara
mengagetkan kami *whaaaah!* hantu itu muncul dengan wajah yg jauh dari bagus,
ya teramat buruk.
Terasa ada yg mencengkram kuat jemariku, kuat
semakin erat.
“kamu takut? Katanya berani! :p” tanyaku yg
menyindir keberanian dia itu.
“ahh, enggak. Cuma kaget aja kok!” jawabnya
dengan raut wajah yg mungkin terlihat merah bila berada dipenerangan.
Ku sampaikan jemariku dengan kembali
menggenggam jemarinya yg mulai dingin, dan itu sama, sama rasanya seperti saat
tadi aku berlari-lari kecil menggenggam tangannya menuju bioskop. Rasanya
hambar, seperti masakan kurang garam, dan juga kurang pedes. Aneh, seperti
bukan tangan lembut yg hangat yg pernah aku genggam dulu!
Mungkinkah sejak perpisahan itu dia sudah
menemukan seseorang yg mampu menggenggam tangannya erat? Menghangatkan
jemarinya dikala dingin menyelimutinya? Hal yg serupa dulu pernah aku lakukan.
Ahh, bodo amatlah. Dia tetaplah dia, dan dia tetaplah yg masih ku tulis namanya
dalam hati. Walaupun sekarang bukan lagi milikku, walaupun jemarinya sudah tak
sehangat dulu, itu tetap kamu.
Kamu : yg tetap aku kenang, biarpun rasa nya
itu hambar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar