Secepat itukah kamu melupakanku? Seolah tak ada bayangku lagi yg menghuni fikiranmu. Semudah itukah dia menggantikanku? Iya, aku yg sebelumnya dengan susah payah mempertahankanmu. Kau bilang "Aku bukanlah type perempuan yg mudah membuka hati". Lantas apakah maksud dari semua ini? Apakah terlalu mudah baginya untuk dapat membuka hatimu itu? Katakan itu tak benar! Lantas dimana kamu menyimpan semua berkas-berkas kenangan yg telah kita bangun bersama? Katakan! Aku ingin mengambilnya, biar aku rawat dengan rapih semua berkas itu.
Kau tahu? Aku serasa terjatuh dari angkasa, membentur bumi hingga kerasnya, saat aku tahu jikalau kamu sudah tak lagi sendiri. Lebih tepatnya hatimu telah dicuri. Bahkan kepalaku seperti terhimpit dua benua. Aku tahu ini berlebihan, namun itu kenyataan!
Siapa dia? Dia yg mengantikan tempatku saat kau lelah lalu bersandar.
Siapa dia? Dia yg merebut senyummu yg dulu sering ku buat.
Siapa dia? Dia yg menghapuskanku dari rumah kecilmu.
Siapa dia? Dia yg mengendalikan dirimu seperti yg kulakukan dulu.
Siapapun dia, aku tak perduli.
Kau ingat? Dulu kita sering berpose bareng dengan tingkah yg aneh didepan camera.
Kau ingat? Dulu akulah orang yg kamu peluk dengan eratnya seraya berkata "Aku tidak mau kehilanganmu".
Kau ingat? Dulu aku yg selalu membuatmu tersenyum riang, sekalipun aku marah tanpa alasan.
Kau ingat? Dulu kita sering menghabiskan waktu malam cuma karna kamu yg selalu insomnia.
Kau ingat? Dulu kala penat mencekik kepala, kau selalu mengajakku menikmati sejuknya udara desa.
Kau ingat? Dulu siapa yg paling mahir mengendalikan situasi kala bosan merusak suasana.
Kau ingat? Dulu sosok pria mana yg rela menemanimu berjam-jam, hanya untuk membantumu memilihkan baju mana yg cocok buatmu.
Apa kau ingat semua itu? Ahh.. Sepertinya kenangan itu sudah kau kubur dalam-dalam, sampai-sampai akupun tak tahu untuk menggalinya.
Sekarang aku bisa apa? Sepertinya Tuhan tak menakdirkan kita untuk kembali bersama. Namun apa aku salah? Jikaku memohon kepadamu untuk selalu menjaga baik dari setiap kenangan kita? Atau setidaknya mau mengingat-ingat aku kala sepi menghantuimu.
Siapapun dia, dengan siapapun sekarang kamu bersama, aku turut berbahagia. Meskipun diam-diam aku menangis tak merelakanmu. Pintaku ; sayangilah dia seperti dulu kau menyayangiku, meskipun aku tahu tetap saja aku yg paling kau sayang. Iya kan?
Dengan siapapun kamu sekarang, semoga kesedihan tak lagi datang menyerang. Tak perlu lagi kau perdulikan aku, tak perlu. Biarkan aku menyendiri, mendo'akanmu dari kejauhan, dan bersemoga agar dia dapat menjagamu dengan baik seperti yg selalu ku usahakan dulu.
Akan ada saatnya nanti untukku meminta maaf padamu. Sebab masih banyak fotomu dalam handphoneku. Kau tahu? Itu karna aku bangga pernah sempat memiliki wanita yg pernah sempat pula melukiskan senyum diwajahku.
Bagai mana denganku? Tak usah kau perdulikan. Aku ini lelaki, biar saja aku mencari, mencari dia yg mencariku jua. Biarlah aku menjadi perindu. Perindu yg mungkin tak mau mengingat siapa yg dirindukan.
Kelak aku akan sangat merindukanmu. Dan aku tak sabar jika nanti kita berjumpa, entah dengan siapa kita bersama, siapakah diantara kita yg senyumnya paling bahagia? Bukan kamu, bukan juga aku. Melainkan Tuhan yg melihat hambanya, yg dulu pernah sempat saling mengirimkan do'a melewatiNya.
Meskipun kita tak lagi bersama, aku harap kamu tak pernah lupa. Jika kita pernah sempat ; Bersama, saling menatap mata, bahkan saling mengobati luka.
Meskipun sekarang aku bukanlah siapa-siapa, bahkan sekarang aku entah dimana, asal kamu tahu ; kita pernah sempat dekat melebihi urat nadi.
Dan disaat kamu benar-benar merindukanku, dengaklah kelangit-langit. Lihatlah bintang-bintang, aku ada diantara salah-satunya.
#Tulisan