Rabu, 16 April 2014


Rasanya Hambar

Sebut saja namaku “Steve”, seorang anak laki-laki dari keluarga yg berada. Aku termasuk type anak yg mandiri : Mandi, cuci baju sendiri.
Dari kecil aku terbiasa dengan hidup yg sederhana, walaupun sebenarnya orang tuaku mampu memenuhi ini itu yg aku butuhkan. Sebab bagiku apalah arti aku sebagai lelaki jika hanya berpangku pada apa yg orang tuaku punya, lagi pula sekarang umurku sudah beranjak 18tahun. Sudah seharusnya aku merawat diriku sendiri, mencari uang sendiri, dan membina diri untuk menenentukan mau jadi apa diriku kelak. 6 bulan lebih aku menjomblo, dikarenakan aku terlalu sibuk dengan duniaku sampai-sampai tak memikirkan untuk berpacaran. Aku memang jomblo, tapi bukan berarti aku tak laku! Banyak perempuan diluar sana yg tertarik padaku, dan kata mereka sih aku ganteng, keren, putih, tinggi, lantas kenapa betah berlama-lama menjomblo? Ahh, buatku tak pentinglah semua itu. Kelak pasti aku akan menemukan seseorang yg mencintaiku dengan kesepenuhan tulus hati dan mau menerima kesederhanaanku. Sebab aku tak mau mempunyai pasangan yg hanya menilaiku dari fisik, terlebih dari drajat keluargaku yg adaan ini! Gak. Gak mau aku.
Dan yg jadi alasan kuat kenapa aku menjomblo itu dikarenakan : aku belum bisa Move-on! Ya ya ya, itu penyakit anak muda dijaman sekarang. Begitukan?
Hatiku sepenuhnya masih tersangkut pada satu sosok, wanita, lebih tepatnya mantan pacar. Sebut saja namanya “Viona”, seorang gadis polos yg jelita, tak kalah lah dengan artis-artis korea sana. Selama hubungan kami putus kami tak pernah stop kontek-kontekan, masih memberi kabar, dan masih memberikan perhatian. Walaupun  perhatiannya itu tak seperti dulu sebelum “Pisah” menjadi jalan utamanya.
Selepas aku pulang dari tempat kerjaku aku berniat mengajak dia jalan. “Nonton”. Setelah hampir tujuh bulan tak bertemu pasti rasa kangen sih ada, 7bulan gitu loh!
“Vio... hari ini kamu libur kerja ya?” pesan singkat ku lewat sms.
“Iya steve..” jawabnya singkat.
“hmm,, nonton yuk!” cepat balasku to the point.
“ayok!” begitupun balasnya yg singkat, namun pasti.
“Oke, nanti sekitar jam 2an aku jemput yak!” balasku.
“oke, ditunggu..”
........ percakapan dihentikan...
Berhubung aku ini orangnya sederhana, jadi aku tak perlu repot2 memilih pakaian apa yg akan ku kenakan nanti. “Sweater kesayanganku + jeans biru”.
“Vio, kamu sudah rapih?” pesanku yg terburu-buru karna ingin bertemu.
“Sudah, kamu jemput aku aja sekarang”
“oke, 5menit.” Jawab ku cepat, karna kebetulan rumahku dan rumahnya tak terlalu jauh.
Kami bertemu ditempat biasa, kira-kira 5meter dari rumahnya. Sengaja aku tak menjemput dirumahnya, karna aku malu sudah lama tak bertamu ke rumahnya.
Tujuan aku mengajaknya nonton disalah satu mall yg agak terlalu jauh dari rumahku, itu supaya aku bisa berlama-lamaan dengan dia. Hehehe
Sepanjang perjalanan kami sempat bercerita kisah masing-masing dari kita, tentang kerjaan, sampai siapa-siapa saja yg mencoba mendekati hati kita masing-masing.
Sesampai disana aku lekas menggenggam tangannya yg mungil, agar kami berjalan agar lebih cepat, soalnya aku takut tertinggal jam tayang.
Ada yg berbeda darinya. Bukan Cuma dari rupanya yg semakin dewasa, tapi juga tangannya. Terasa dingin, hambar, berbeda tak seperti dulu saat aku juga pernah menggenggam tangannya.
Etah apa yg membuatnya beda, apa mungkin 7bulan itu sudah ada sosok yg menggantikan genggamanku kepadanya? Ahhh, aku tak perduli. Apalah artinya aku sekarang baginya, yg tidak lain hanya sekedar “Mantan pacar”. Ya, mantan pacar.
Didalam lobby kami melihat-lihat film apa yg tayang sekarang, dan kami sangat tak suka film2 yg berbau lebay, dramatis gitu deh!
Fix! Film horror yg akhirnya kami pilih.  Selain lebih menguji adrenalin, dan pastinya suasana ruangan gak sunyi. Aku memilih kursi dengan jarak yg tidak terlalu jauh dari layar, dan tak terlalu dekat pula dari layar. Tengah! Sepertinya sangat ideal bagi anak muda seperti kami.
Baru awal film dimulai saja suasana menggeram, jerit-jerit kagetpun terngiang ditelinga, seram.
“Kamu enggak takut kan?” tanyaku berharap dia takut lalu memelukku.
“hehe, enggak donk kan aku pemberani!” jawabnya seolah dia sudah sangat akrab dengan pemeran hantu itu.
“ahh, yg bener. Oke deh buktikan saja!” ucapku yg seakan enggak percaya dengan keberanian dia.
*... aaaaaaaa...* jerit jerit sana sini dari isak penonton menyelimuti seisi ruangan.
Sesekali ku tatap raut mukanya yg agak sedikit kaget gitu, namun aku pura-pura tak tau aja.
Inti film semakin menjadi, dan sebuah suara mengagetkan kami *whaaaah!* hantu itu muncul dengan wajah yg jauh dari bagus, ya teramat buruk.
Terasa ada yg mencengkram kuat jemariku, kuat semakin erat.
“kamu takut? Katanya berani! :p” tanyaku yg menyindir keberanian dia itu.
“ahh, enggak. Cuma kaget aja kok!” jawabnya dengan raut wajah yg mungkin terlihat merah bila berada dipenerangan.
Ku sampaikan jemariku dengan kembali menggenggam jemarinya yg mulai dingin, dan itu sama, sama rasanya seperti saat tadi aku berlari-lari kecil menggenggam tangannya menuju bioskop. Rasanya hambar, seperti masakan kurang garam, dan juga kurang pedes. Aneh, seperti bukan tangan lembut yg hangat yg pernah aku genggam dulu!
Mungkinkah sejak perpisahan itu dia sudah menemukan seseorang yg mampu menggenggam tangannya erat? Menghangatkan jemarinya dikala dingin menyelimutinya? Hal yg serupa dulu pernah aku lakukan. Ahh, bodo amatlah. Dia tetaplah dia, dan dia tetaplah yg masih ku tulis namanya dalam hati. Walaupun sekarang bukan lagi milikku, walaupun jemarinya sudah tak sehangat dulu, itu tetap kamu.
Kamu : yg tetap aku kenang, biarpun rasa nya itu hambar.




@Noo__ARZ