Rabu, 02 April 2014


Malam Membutuhkan Cahaya


Malam ; tepatnya dimana hati temaram, kelam, gelap dan semakin tenggelam.
Tahukah kamu disaat malam menyapa? Sepi. Hal yang selalu tak aku suka, namun sesuatu yang paling setia menemani.
Menatap langit yang bercorak hitam kelam, dengan tatap yang sadis seolah menghujam.
Terlihat dari kejauhan siluet-siluet lampu berterangan, seolah menghiasi malam yang selalu butuh penerangan.
Malam selalu membutuhkan “Bintang dan Bulan”, selain berguna untuk penerangan, mereka juga bisa dibilang sebagai teman.
Dengan pantulan cahaya mereka langitpun seakan tak lagi gelap, terang dan  gemerlang acap kali mereka berkedip.
Aku sangat cemburu, teramat sangat. Langit saja ada yang menghiasi, lalu siapa yang menghiasi aku punya hati? Perduli amat!
Waktu itu langit dalam keadaan mendung, tak begitu gelap namun tak jua terang. Dimanakah bintang ? Letihkah dia menemani bulan menghiasi malam pada saat itu? Satupun dari mereka tak ada yang tampak.
Termenung melihat situasi malam, dan akupun tetiba terdiam. Ada apa? Kemana dia? Apa dia telah lelah, sama seperti ku yang mulai jengah. Ahh! Jelas bintang tak secanggih hati manusia, itu kuasa Tuhan dan tak sampai pemikiran ku mencapainya.
Yang aku tahu : bintang itu sudah sangat akrab dengahku, dan dia jauh lebih pekka dari pada kalian! Dia selalu ada disaat malam menghunjamku dengan penuh kerinduan, dengan menatapnya dan mengirimkan seutas rindu yang cepat atau lambat kamu akan merasakannya perlahan.
“Entah kenapa kala rindu datang menyekka ku, aku jadi sering bertingkah aneh. Berbicara dengan benda, yang entah apa dia bisa mendengarkannya”
Saat itu hatiku tak lagi utuh. Sama seperti langit yang tak temu bintang. Gelap, sepi, sedih, resah, semua bercampur aduk layaknya adonan kue yg dibuat dengan air mata. Ahh! Terlalu berlebihan, intinya rasaku gundah tak karuan.
Bagaimana aku bisa bercerita kepada bintang, sedang langit dan bulan juga begitu membutuhkannya? Jelas malam akan selalu membutuhkan cahaya. Tanpanya langit  terlihat suram, tak elok, tak ada kedap-kedipan manja menyilaukan mata. Gelap. Lantas apakah bulan bersedih? Walau kehadirannya sangat dibutuhkan, sebagai teman penerangan.
Tidak! Aku salah, bulan seolah lebih tau dengan keadaan bintang pada malam itu. Seolah telah berpamitan, meminta absen tak dapat hadir. Bulan pun memakluminya, walau sebenarnya tak sanggup menerangi malam dengan sendiri.
“Terkadang seseorang merasa lemah bila tak ada orang lain yang biasa bersamanya, merasa tak yakin bahwa dirinya jauh bisa diandalkan walau sebenarnya dia mampu.”
Bulan saja bisa tetap bersinar walau tak ada teman yg sangat berarti baginya, masa aku enggak bisa? “Sejatinya memang sulit untuk tetap tegar, kuat melakukan suatu hal tanpa ada penyemangat hidup.”
Bulan tak pernah membenci bintang, sekalipun dia suka ilang-ilangan! Sampai kapanpun malam akan selalu butuh cahaya. Sosok bulan dan bintang sangatlah dibutuhkan dalam gelap. Siluet lampu, rumah, gedung-gedung cukup membantu suasana malam tak begitu suram.
Apakah “Kita” seperti bintang dan bulan? Yang saling membutuhkan, saling memaklumi dengan keadaan. “Cukup ada kamu di-sisiku, hari-hariku udah cukup jauh lebih terang, sayang.”
Semoga esok dan seterusnya malam tak lagi gelap tanpa tak adanya penerangan, dan bulanpun tak lagi merasa kehilangan bintang.  Selamat malam, selamat memejam! Laffuuu... <3