Malam Membutuhkan Cahaya
Malam ; tepatnya dimana hati temaram, kelam,
gelap dan semakin tenggelam.
Tahukah kamu disaat malam menyapa? Sepi. Hal
yang selalu tak aku suka, namun sesuatu yang paling setia menemani.
Menatap langit yang bercorak hitam kelam, dengan
tatap yang sadis seolah menghujam.
Terlihat dari kejauhan siluet-siluet lampu
berterangan, seolah menghiasi malam yang selalu butuh penerangan.
Malam selalu membutuhkan “Bintang dan Bulan”,
selain berguna untuk penerangan, mereka juga bisa dibilang sebagai teman.
Dengan pantulan cahaya mereka langitpun seakan
tak lagi gelap, terang dan gemerlang
acap kali mereka berkedip.
Aku sangat cemburu, teramat sangat. Langit saja
ada yang menghiasi, lalu siapa yang menghiasi aku punya hati? Perduli amat!
Waktu itu langit dalam keadaan mendung, tak
begitu gelap namun tak jua terang. Dimanakah bintang ? Letihkah dia menemani
bulan menghiasi malam pada saat itu? Satupun dari mereka tak ada yang tampak.
Termenung melihat situasi malam, dan akupun
tetiba terdiam. Ada apa? Kemana dia? Apa dia telah lelah, sama seperti ku yang
mulai jengah. Ahh! Jelas bintang tak secanggih hati manusia, itu kuasa Tuhan
dan tak sampai pemikiran ku mencapainya.
Yang aku tahu : bintang itu sudah sangat akrab
dengahku, dan dia jauh lebih pekka dari pada kalian! Dia selalu ada disaat
malam menghunjamku dengan penuh kerinduan, dengan menatapnya dan mengirimkan
seutas rindu yang cepat atau lambat kamu akan merasakannya perlahan.
“Entah kenapa kala rindu datang menyekka ku,
aku jadi sering bertingkah aneh. Berbicara dengan benda, yang entah apa dia
bisa mendengarkannya”
Saat itu hatiku tak lagi utuh. Sama seperti
langit yang tak temu bintang. Gelap, sepi, sedih, resah, semua bercampur aduk
layaknya adonan kue yg dibuat dengan air mata. Ahh! Terlalu berlebihan, intinya
rasaku gundah tak karuan.
Bagaimana aku bisa bercerita kepada bintang,
sedang langit dan bulan juga begitu membutuhkannya? Jelas malam akan selalu
membutuhkan cahaya. Tanpanya langit
terlihat suram, tak elok, tak ada kedap-kedipan manja menyilaukan mata.
Gelap. Lantas apakah bulan bersedih? Walau kehadirannya sangat dibutuhkan,
sebagai teman penerangan.
Tidak! Aku salah, bulan seolah lebih tau dengan
keadaan bintang pada malam itu. Seolah telah berpamitan, meminta absen tak
dapat hadir. Bulan pun memakluminya, walau sebenarnya tak sanggup menerangi
malam dengan sendiri.
“Terkadang seseorang merasa lemah bila tak ada
orang lain yang biasa bersamanya, merasa tak yakin bahwa dirinya jauh bisa
diandalkan walau sebenarnya dia mampu.”
Bulan saja bisa tetap bersinar walau tak ada
teman yg sangat berarti baginya, masa aku enggak bisa? “Sejatinya memang sulit
untuk tetap tegar, kuat melakukan suatu hal tanpa ada penyemangat hidup.”
Bulan tak pernah membenci bintang, sekalipun dia
suka ilang-ilangan! Sampai kapanpun malam akan selalu butuh cahaya. Sosok bulan
dan bintang sangatlah dibutuhkan dalam gelap. Siluet lampu, rumah,
gedung-gedung cukup membantu suasana malam tak begitu suram.
Apakah “Kita” seperti bintang dan bulan? Yang saling
membutuhkan, saling memaklumi dengan keadaan. “Cukup ada kamu di-sisiku,
hari-hariku udah cukup jauh lebih terang, sayang.”
Semoga esok dan seterusnya malam tak lagi gelap
tanpa tak adanya penerangan, dan bulanpun tak lagi merasa kehilangan bintang. Selamat malam, selamat memejam! Laffuuu...
<3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar