Senin, 07 April 2014

Tertegun menunggumu, Dhedoong





            Lagi-lagi malam menjadi alas di-mana aku berteduh, meluapkan semua pilu. Lagi-lagi malam lebih pas dimana aku bisa bersembunyi, menyisihkan ingatan tentang seseorang yg selalu ku rindui.
Dengan langit mengabu seolah tahu akan isi kalbu. Di hiasi gemerlak bintang yg berjolak berkedip dengan genitnya. Kamu, apakah tahu disini aku teramat merindumu? Memikirkan hal-hal yg lucu disaat bersamamu, canda tawamu yg begitu menggebu. Dalam ingatanku.
Sayup-sayup angin mengibas poni tipis rambutku dengan lembutnya, sesekali kekelawar berterbangan seolah menari-nari.
Malam memang selalu cocok sebagai tempat dimana aku menghabiskan waktu, mendengarkan lantunan syair musik menambah ketenangan hatiku semakin menggebu-gebu.
Kamu ; Apa yg selalu jadi inspirasi dalam semua tulisanku, dan karnamu aku mampu menggerakkan jemari kecilku untuk menuliskan kata-kata yg enggak begitu indah ini.
Kamu ; Hal yg selalu aku ingat, suatu hal yg membangkitkanku dari yg telah aku tak ingat.
Perpaduan kondisi malam yg sunyi dan kamu yg membuat aku termotivasi, membuat jemari kecilku menari-nari di atas papan ketik yg belum lama aku jadi sering mencurahkan apa isi hati, disini.
Tahu kah kamu? Ada banyak kata yg ingin aku hantamkan keras didepanmu, dengan hati yg meluap akan banyaknya kata-kata untukmu.
Tahu kah kamu? Setiap hari aku menyiksa diri hanya karna sebuah rindu, yg semakin hari semakin membumbung tinggi dalam benakku.
Ahh! ku rasa kau sama sekali tak perduli itu. bukan?
Biarlah rindu ini semakin membeku, dalam relung palung jiwaku. Cukup aku, Tuhan yg tahu.
Sesekali aku coba mengajakmu bertemu, kiranya itu dapat membasuh rinduku yg sudah sangat kaku.
Namun alam berkehendak lain, seolah tak mengijinkan pertemuan itu terjadi. Aku membatin.
Kesal teramat kesal, tapi apa daya kata-katamu selalu meyakinkanku akan sebuah kesabaran.
Entahlah, sampai kapan aku terus menyiksa diri, karna rindu yg belum juga terobati.
Apalah aku ini? Tak pantas pula aku merindumu, jelas seutuhnya rasamu telah direnggut olehnya, orang yg sukses membuatmu menunggu. Meski itu harapan palsu.
Salah teramat salah jika aku tetap bersih keras mengejar cintamu. Tapi salah kah aku bila berusaha terlebih dahulu menantimu? Walau hanya bualan semata, jelas itu sakit. Teramat sakit.
"Bukankah cinta itu harus diperjuangkan? apapun kendala yg menghadang. perduli amat!"
Ibuku juga selalu berpesan "Jika dia cintamu, kejarlah! raihlah dia sampai diusaha terakhirmu"
Kata-kata ibuku itu lebih tepatnya nasihat untukku, yg selalu jadi pembangkit dalam jerih payahku.
Sesekali aku pernah mengungkapkan padamu, walau sesekali pula kau anggap itu lelucon. Pedih teramat sedih terasa hambar mengapung dilautan.
Sesekali pula kamu juga sering bilang kalau "Kamu tak ingin kehilanganku, kehadiranku sangat berarti untukmu". Arrgght! Kalimat itu selalu ternghiang dalam ingatanku, seolah harapan semakin tumbuh dan berkembang.
Siapalah aku? yg lebih pantas disebut dengan "Pengagum". mengagumi segala keindahan yg Tuhan ciptakan, dalam dirimu.
Cinta? Bukan cinta yg kamu rasa, itu jua hanya sebagai pengagum, mengagumi segala ketulusanku menyayangimu, menenangkanmu dikala pilu.
Andai langit bisa berbicara, lewat hujan menyampaikan segala perasaanku terhadapmu. Tahukah kamu? aahh,  jelas kau tak pernah tau itu.
Dibawah langit aku berteduh, bercerita dengan sendu. Dibawah langit pula aku menuliskan semua kesal risalku padamu, lebih tepatnya pada cintamu.
Cinta membuat aku gila. Terlebih gila karna aku selalu mengharapmu. Walau aku sadar bahwa jauh direlung hatimu jelas terukir namanya, bukan namaku. Gila bukan?
"Cintaku ini tulus, dhedoong. Tidakkah kamu mengerti itu? Disini aku melatih kesabaran, menunggu kamu hingga beralih melupakannya memindahkan kepadaku semua perasaan."
"Cintaku ini fakta, dhedoong. Tidakkah kau fahami itu? Berkali-kali aku menghunjammu dengan perhatian yg teramat lebih, hingga lukamupun sampai pulih".
Lihatlah kebelakang, dhedoong. Disini Aku tertegun menunggumu. Menunggu jawaban akan semua yg telah aku lakukan. Bersamamu aku nyaman, begitupun yg kamu rasakan. Bukan begitukan?
Aku tau jika cinta itu tak mesti memiliki, tapi apa aku sanggup menjaga seutuhnya cintaku ini seperti cintamu padanya? Ahh,, jelas aku meragukan itu.
Sudahlah cukup aku menyimpan sendiri perasaan ini, sehari, berharihari, berbulan bulan, bahkan tahunan tetap akan ku simpan dalam hati. 
Tapi ingatlah, Disini aku tertegun menunggumu. Cintamu : dhedoong. :")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar