Kita memang baru diperkenalkan Tuhan, tanpa ada
kesengajaan yg kita perbuat. Berawal dari keisenganku yg suka iseng terhadap
teman social mediaku. Tadinya aku hanya ingin menambah teman kenalan ku, bukan
hanya didunia nyata, namun juga didunia maya. Menurutku ; semakin kita
mempunyai banyak teman, maka semakin luas juga dunia perkenalan kita. Btw, aku
mau cerita sedikit. Jadi berhubung aku orangnya iseng, jomblo juga. Teman fb ku
ada yg bernama dengan inisial “T” tadinya aku hanya ingin berkenalan dengannya,
entah lama-kemudian kita semakin asik berbincang-bincang.
“Hey! Minta dong..” *pesan singkatku dalam
obrolan fb*
“Minta apah?” *jawabnya yg pasti
terheran-heran*
“Mbb.. Maksudku, boleh minta senyumnya?”
*dengan pd-nya aku luncurkan jurus andalanku ngegombalin wanita*
“Hahaha.. J”
*balasnya dengan tertawa yg sebenernya aku gak tahu apa maksudnya*
“Duuh, manisnya.. J” *jawabku dengan kembali ngegombal*
“Hehe, makasih..”
“Boleh kenal?” *balasku berharap terus lanjut
dalam percakapan*
“Boleh.” *jawabnya singkat*
“Anak mana? Punya pin? Agar lebih enak aja
chat-an nya” *oke kali ini aku berharap banyak..*
“Ciputat, punya ******” *balasnya dengan
mencantumkan pinnya*
“Oke, waiting for acc invite me..” *sambil
senyum-senyum langsung mengin_vite dia*
Percakapanpun berlanjut ke BBM...
“Ping!!!” *dengan cepat langsung aku nge-ping
dia yg sebelumnya sudah di-acc*
“iya..” *jawabnya yg kembali singkat*
“Anak mana? Masih sekolah or...” *memulai intro
tentang dia*
“Ciputat, masih kelas 12”
“Oh, deket dong ya. Oalah, masih dede gemes
dong! (sebutan untuk gadis yg masih sekolah)
“Iya, oalah hahah” *balasnya yg sebenernya buat
aku bingung*
“Sekolah dimana memangnya? Btw, ada yg marah
gak nih kalo aku bbm ?” *pertanyaan ku yg sebenernya Cuma buat mastiin dia jomblo
apa enggak*
“SMA 6 pamulang, haha gak ko, aku free”
*layaknya anak sekarang, free itu ‘jomblo’*
“Oalah, temennya **** dong? Oh, syukur deh. “
*tanya ku yg sebenernya sudah tau jawabannya*
"iyah.. :) "
(percakapan berlangsung agak lama, layaknya percakapan orang yg sedang berkenalan)
Hari ini aku berniat mengajak dia ketemuan, nonton. Sejak pagi aku memikirkan mau dimana tempat yg paling pas buat nonton, berhubung rumahku lumayan jauh dengan rumahnya. Akhirnya kita memilih untuk nonton dibintaro plaza. Selepas pulang sekolah aku menunggunya didepan gang sekolah, karna aku orangnya pemalu dan juga phobia sama perempuan yg baru dikenal, maka aku memutuskan untuk menjemputnya di(gang) sekolah. Pait! Ketika aku sudah sampai disana, dia gak mau jalan beberapa langkah untuk menemuiku yg sejak tadi menunggunya. Dia mau aku jalan terus hingga dekat pagar sekolah, beralasan malas jalan. Tadinya aku gak mau, selain karna aku ini pemalu, aku tahu jika disana banyak teman cricket (organisasi olahraga yg aku ikuti). Aku takut ke-gap, takut diledekin. Arrgggh, pokonya males banget!
" Hey, sini. Aku sudah menunggumu lama didepan gang."
" Ah, males. Kamu terus aja masuk kedalem, aku didepan warung"
"Het, aku malu. Pasti disitu banyak anak cricket, kamu aja sini jalan sedikit" *balasku yg berharap dia mengerti*
"Lelaki tuh? " *ledekan dia yg seolah aku ini penakut*
"Bukan gitu, tapikan..... Agghh, oke tunggu!" *balasan terakhir sambilku setir motorku dengan pelan2*
"Kamu dimana? Aku sudah didepan warung, buruan banyak anak cricket nih!" *pesanku yg agak ketakutan karna memang banyak anak cricket disekitar situ*
"Sudah lama? Boleh aku naik sekarang?" *tanyanya seolah tak ada rasa takut sedikitpun*
"Sudah ayu buruan, liat tuh anak cricket semua. Untung aku pakai helm, semoga saja tak ada yg melihat"
Percakapanpun dilanjutkan sepanjang jalan, sesambil aku menanyakan dimana alamat rumahnya. Dia cantik, aku tak menduga jika aslinya jauh lebih cantik daripada foto yg aku lihat. Oh Tuhan, kuatkanlah hamba. Bibir ini serasa dijahit, beku. Sesekali aku menanyakan sesuatu sekedar berbasa-basi, yg kemudian menjadi hening. Sepertinya dia type gadis yg cuek, gak akan bicara sebelum diajak bicara. Pait!
Akhirnya kita sampai dirumahnya, tepatnya disekitar (UIN) ciputat. Keadaan rumahnya sepi, hanya ada seorang lelaki yg masih berusia lima belasan tahun (adiknya). Ayahnya kerja dan ibunya keluar sebentar membeli keperluan rumah tangga. Oke fix, kali ini aku beruntung karna belum sempat bertemu orang tuanya. Sekitar ba'da magrib kita keluar nonton, dengan dapat izin dari ibunya melalui sms. Ibunya berkata ; Yasudah, pulangnya jangan malem-malem, dan jangan BT ya. Berarti selama dia keluar rumah, pulangnya dia sering menekuk muka, bosan, acaranya gak menyenangkan.
"Memangnya kamu kalau keluar, pulangnya suka BT ya? * tanyaku seolah ingin tahu*
"Hmm, ya begitu dah. Karna kelelahan, dan gak ada yg mengesankan buatku."
"Duuh, tenang saja. Insa Allah selepas sampai rumah nanti, aku gak akan buat kamu BT kok! " *jawabku seolah meyakini dia*
"Mbb,, okeh."
Sesampai dibintaro plaza kita langsung menuju bioskop, memilih film apa yg bakal menarik untuk ditonton. Berhubung dia tak suka film horor indonesia, kita memilih film barat (Guardian of galaxi). Kita memilih tempat duduk yg gak terlalu jauh dari layar, dan gak terlalu dekat dengan layar. Tengah, sepertinya pas.
Keadaan dalam bioskop cukup tenang, penontonnyapun gak sampai memenuhi kursi, cukup lenggang. Mungkin karna film ini gak terlalu banyak yg meminati, mungkin. Sruuuuut, aku sangat menikmati minumanku, begitupun dengannya yg sebelumnya membeli 2gelas coca-cola. Dalam gelap kita hanya mengheningkan cipta, menghayati alur cerita, sesekali main handphone. Dingin, udara didalam bioskop sangat dingit. Aku lupa mengenakan jaket, hanya memakai kaos berlengan panjang, dan itupun tak setebal kulit sapi. Saat film berlangsung seru, sesekali aku mencuri-curi pandang. Memerhatikan bentuk wajahnya yg cantik, lucu dan gemesin. Arrgh, seandainya dia kekasihku mungkin saja aku sudah menggenggam jemarinya, saling menghangatkan didalam kegelapan. Filmpun semakin seru, dan kita hanya terdiam seolah tak saling kenal hingga lampu-lampu didalam ruangan dinyalakan. Oke, film telah selesai.
Cukup seru filmnya, dan semoga dia gak merasa jenuh. Kemudian kita keluar dari bioskop dalam keadaan masih hening, dan memegang sisa coca-cola yg belum habis.
"Bagaimana menurutmu tentang filmnya?" *tanyaku memecah keheningan*
"Mbb, cukup seru. Tidak membosankan." *jawabnya yg kemudian diam*
"Kamu lapar? Mau temani mengisi perut sebentar?" *tanyaku untuk sekedar memanjangkan waktu buat bersama*
"Enggak, aku masih kenyang."
"Lalu mau kemana?" *tanyaku yg seharusnya mencari ide lain agar bisa berdua dengannya*
"Langsung pulang saja, udah hampir larut malam."
"Mbb.. Oke deh.."
Ya Tuhan, apakah yg ada didalam fikirannya. Bagi gadis yg baru aku kenal, gadis yg sangat pendiam, terkesan cuek, namun tetep saja menggemaskan. Iya, aku jatuh cinta. Disepanjang jalan pulang aku mencoba mencari topik perbincangan, dari mengulas lagi film yg baru ditonton, bertanya apakah orang tuanya sudah menyuruhnya pulang, sampai kembali bertanya "Mau makan apah?" yg sebenarnya tujuan utamanya agar kita bisa berlama-lama menikmati malam.
"Ibumu sudah menyuruhmu pulang?"
"Belum.." *jawabnya singkat*
"Oh, syukur deh. Gimana nontonnya? Apa buat kamu bosan? Apa harimu bersama ku menjenuhkan?"
"Mbb. enggak, biasa saja."
"Mau temenin aku makan? sepertinya perut ini sedari tadi tak henti berbunyi." *tanyaku berharap dia mau menemani*
"Aku masih kenyang, kamu saja yg makan."
"Ahh, gak mau. Aku maunya bareng sama kamu, aku makan dan kamupun makan!"
"Mbb, aku masih kenyang tau. Yasudah, asal jangan lama-lama."
"Mbbb, oke deh. Mau makan apah? Aku lagi ingin menyantap bakso, apa kamu tahu tempat yg enak?"
"Aku jarang keluar rumah, jadi tengok saja disepanjang jalan."
"Oke deh."
Suasana malam cukup berteman, udara yg tak terlalu dingin, dengan sinar rembulan yg buat malam sangat romantis. Iya, bagi orang yg lagi kasmaran apapun terasa menyenangkan. Disepanjang jalan aku menengak-nengok pinggiran jalan, berharap ada lapak tukang bakso yg masih berjualan. Pait! Sampai didekat gang rumahnya, tak ada satupun tukan bakso yg berjualan. Untungnya dia mengijinkan untuk berbelok arah dari gang rumahnya, mencari tukang bakso yg masih berjualan. Yess, pucuk dicinta ulampun tiba. Setelah melewati beberapa belokan, akhirnya kita menemukan tukang bakso yg masih berharap ada pelanggan. Dengan keadaan perut yg lapar aku langsung memesan, begitupun dengannya yg memesan mie ayam. Lucu, dikios baksopun kita jarang sekali bercakap, hanya sesekali kemudian kembali asik dengan pesanan masing2. Setelah selesain makan aku langsung menghampiri abangnya untuk membayarnya.
"Kenapa cowok itu selalu bayarin cewek?" *tanyanya seolah heran dengan prilaku cowok*
"Mbb, gapapa sih. Bagiku ; kan aku yg mengajakmu keluar, jadi aku penanggung jawabmu seutuhnya."
"Yee, kenapa harus gitu? Memangnya cewek gak bisa bayar?"
"Bukan begitu tha, hanya saja aku terbiasa seperti itu. Masa cowok dibayarin cewek, mau dibawa kemana drajatnya?"
"Mbb,, iya iya.."
"Kamu pasti bakalan capek, kemudian nyerah."
"Cape kenapa? nyerah kenapa? karna ngedeketin gadis seperti kamu?"
"Iya, soalnya dari cowok sebelumnya yg deketin aku sih pada begitu."
"Iya, soalnya dari cowok sebelumnya yg deketin aku sih pada begitu."
"Hahaha, jangan samain aku sama mereka yak. Aku akan berusaha serta membuktikan dari apa yg aku ucapkan. "
"Tapikan kebanyakan begitu, apalagi kamu itu 'Strenger'."
"Apatuh strenger?"
"Orang yg baru aku kenal, yg belum tau batang hingga akarnya, noo.. "
"Hahaha maav maav, aku gak faham soal bahasa seperti itu. Tapi memangnya kenapa kalo aku strenger? bukankah yg membedakan itu cara membuktikan, serta usaha buat kamu jatuh pada pelukku?"
"Noo, kita ini baru kenal. Jadi aku harap kamu bisa mengerti, dan aku sulit untuk membuka hati untuk siapapun."
"Tha, please. Izinkan aku tuk berjuang, izinkan aku tuk membuktikan, dan izinkan aku untuk perlahan mengisi hari-harimu, meskipun aku tahu itu sangat sulit."
"Mbb, yasudah terserah."
"hahaha "...
Percakapan menjadi hening, entah apa yg dia fikirkan. Mungkin masalalu yg membuat dia trauma dengan "Strenger" (orang yg baru ia kenal). Bagiku tak apalah, yg namanya perjuangan harus ada yg dikorbankan, harus ada yg dinikmati, meskipun pait!
Entahlah, apa yg buat aku begitu yakin bisa memilikinya. Jelas-jelas itu suatu kode jika ia mungkin tak mengharapkanku, tapi apa salahnya jika aku berjuang?
Harapan pasti ada, meskipun untuk mendaki gunung tak bisa dilewati hanya dengan lewat jalan lurus keatas, meskipun sulit untuk bertahan ditengah badai ombak dengan hanya menggunakan perahu nelayan. Pait!
Aku si(strenger) katanya, meskipun menurutku aku ini si(stronger). Apapun hasilnya nanti, aku percaya ; jika Tuhan pasti membantu hambanya yg berusaha hingga titik akhir. Meskipun pait nantinya, tak apa. Bukankah cinta memang harus diperjuangkan? Aku lelaki, dan sebagai lelaki harus membuktikan apa yg ia ucapkan.
"Oke kita sudah sampai."
"Ayu masuk dulu, mungkin ibuku belum tidur."
"oke.."
"Assalamu'alaikum.." *sapaku saat memasuki rumahnya*
"Wa'alaikum salam.." *ibunya membalas*
"Bu, kenalin. Aku temennya talitha."
"Oh, iya. Tinggal dimana dek?"
"Ciledug bu.. "
"Duuh, jauh juga ya dari sini. Makasih ya sudah mengantarkan anak saya pulang."
"Heheh, ya begitu dah bu. Iya sama-sama bu. Yasudah, saya pamit pulang dulu ya bu, udah malam."
"Oh yasudah, hati-hati ya dek. sekali lagi terimakasih."
"Iya bu, assalamu'alaikum." *kataku sambil menuju keluar rumahnya*
"Tha, aku pulang dulu ya. Kamu langsung tidur, semoga tidurmu lelap. "
"iya noo, hati-hati ya dijalan. "
"*aku hanya melempar senyum, kemudian pergi meninggalkan rumahnya*"
Hufft, cukup menyenangkan hari ini. Semoga saja esok dan seterusnya masih bisa bertemu dengannya, dan semoga nanti saat bertemu ; aku bukan lagi (Strenger). Setelah kejadian malam itu, cinta semakin tumbuh didalam hati, harapan semakin menggunung terhadapnya. Entah apakah nanti aku bisa menakhlukannya, ataukah bahkan aku tersungkur karna lelah memperjuangkannya. Entahlah, saat ini aku hanya ingin tersenyum penuh kebahagiaan...
@Noo_stalgia #Cerpen