Jumat, 24 Oktober 2014

_Harapan ; Strenger_

       
        

        Kita memang baru diperkenalkan Tuhan, tanpa ada kesengajaan yg kita perbuat. Berawal dari keisenganku yg suka iseng terhadap teman social mediaku. Tadinya aku hanya ingin menambah teman kenalan ku, bukan hanya didunia nyata, namun juga didunia maya. Menurutku ; semakin kita mempunyai banyak teman, maka semakin luas juga dunia perkenalan kita. Btw, aku mau cerita sedikit. Jadi berhubung aku orangnya iseng, jomblo juga. Teman fb ku ada yg bernama dengan inisial “T” tadinya aku hanya ingin berkenalan dengannya, entah lama-kemudian kita semakin asik berbincang-bincang.
“Hey! Minta dong..” *pesan singkatku dalam obrolan fb*
“Minta apah?” *jawabnya yg pasti terheran-heran*
“Mbb.. Maksudku, boleh minta senyumnya?” *dengan pd-nya aku luncurkan jurus andalanku ngegombalin wanita*
“Hahaha.. J” *balasnya dengan tertawa yg sebenernya aku gak tahu apa maksudnya*
“Duuh, manisnya.. J” *jawabku dengan kembali ngegombal*
“Hehe, makasih..”
“Boleh kenal?” *balasku berharap terus lanjut dalam percakapan*
“Boleh.” *jawabnya singkat*
“Anak mana? Punya pin? Agar lebih enak aja chat-an nya” *oke kali ini aku berharap banyak..*
“Ciputat, punya ******” *balasnya dengan mencantumkan pinnya*
“Oke, waiting for acc invite me..” *sambil senyum-senyum langsung mengin_vite dia*
Percakapanpun berlanjut ke BBM...
“Ping!!!” *dengan cepat langsung aku nge-ping dia yg sebelumnya sudah di-acc*
“iya..” *jawabnya yg kembali singkat*
“Anak mana? Masih sekolah or...” *memulai intro tentang dia*
“Ciputat, masih kelas 12”
“Oh, deket dong ya. Oalah, masih dede gemes dong! (sebutan untuk gadis yg masih sekolah)
“Iya, oalah hahah” *balasnya yg sebenernya buat aku bingung*
“Sekolah dimana memangnya? Btw, ada yg marah gak nih kalo aku bbm ?” *pertanyaan ku yg sebenernya Cuma buat mastiin dia jomblo apa enggak*
“SMA 6 pamulang, haha gak ko, aku free” *layaknya anak sekarang, free itu ‘jomblo’*
“Oalah, temennya **** dong? Oh, syukur deh. “ *tanya ku yg sebenernya sudah tau jawabannya*
"iyah.. :) "
(percakapan berlangsung agak lama, layaknya percakapan orang yg sedang berkenalan)

          Hari ini aku berniat mengajak dia ketemuan, nonton. Sejak pagi aku memikirkan mau dimana tempat yg paling pas buat nonton, berhubung rumahku lumayan jauh dengan rumahnya. Akhirnya kita memilih untuk nonton dibintaro plaza. Selepas pulang sekolah aku menunggunya didepan gang sekolah, karna aku orangnya pemalu dan juga phobia sama perempuan yg baru dikenal, maka aku memutuskan untuk menjemputnya di(gang) sekolah. Pait! Ketika aku sudah sampai disana, dia gak mau jalan beberapa langkah untuk menemuiku yg sejak tadi menunggunya. Dia mau aku jalan terus hingga dekat pagar sekolah, beralasan malas jalan. Tadinya aku gak mau, selain karna aku ini pemalu, aku tahu jika disana banyak teman cricket (organisasi olahraga yg aku ikuti). Aku takut ke-gap, takut diledekin. Arrgggh, pokonya males banget!
" Hey, sini. Aku sudah menunggumu lama didepan gang."
" Ah, males. Kamu terus aja masuk kedalem, aku didepan warung"
"Het, aku malu. Pasti disitu banyak anak cricket, kamu aja sini jalan sedikit" *balasku yg berharap dia mengerti*
"Lelaki tuh? " *ledekan dia yg seolah aku ini penakut*
"Bukan gitu, tapikan..... Agghh, oke tunggu!" *balasan terakhir sambilku setir motorku dengan pelan2*

"Kamu dimana? Aku sudah didepan warung, buruan banyak anak cricket nih!" *pesanku yg agak ketakutan karna memang banyak anak cricket disekitar situ*

"Sudah lama? Boleh aku naik sekarang?" *tanyanya seolah tak ada rasa takut sedikitpun*
"Sudah ayu buruan, liat tuh anak cricket semua. Untung aku pakai helm, semoga saja tak ada yg melihat"

          Percakapanpun dilanjutkan sepanjang jalan, sesambil aku menanyakan dimana alamat rumahnya. Dia cantik, aku tak menduga jika aslinya jauh lebih cantik daripada foto yg aku lihat. Oh Tuhan, kuatkanlah hamba. Bibir ini serasa dijahit, beku. Sesekali aku menanyakan sesuatu sekedar berbasa-basi, yg kemudian menjadi hening. Sepertinya dia type gadis yg cuek, gak akan bicara sebelum diajak bicara. Pait!
          Akhirnya kita sampai dirumahnya, tepatnya disekitar (UIN) ciputat. Keadaan rumahnya sepi, hanya ada seorang lelaki yg masih berusia lima belasan tahun (adiknya). Ayahnya kerja dan ibunya keluar sebentar membeli keperluan rumah tangga. Oke fix, kali ini aku beruntung karna belum sempat bertemu orang tuanya. Sekitar ba'da magrib kita keluar nonton, dengan dapat izin dari ibunya melalui sms. Ibunya berkata ; Yasudah, pulangnya jangan malem-malem, dan jangan BT ya. Berarti selama dia keluar rumah, pulangnya dia sering menekuk muka, bosan, acaranya gak menyenangkan. 
"Memangnya kamu kalau keluar, pulangnya suka BT ya? * tanyaku seolah ingin tahu*
 "Hmm, ya begitu dah. Karna kelelahan, dan gak ada yg mengesankan buatku."
"Duuh, tenang saja. Insa Allah selepas sampai rumah nanti, aku gak akan buat kamu BT kok! " *jawabku seolah meyakini dia*
"Mbb,, okeh."

           Sesampai dibintaro plaza kita langsung menuju bioskop, memilih film apa yg bakal menarik untuk ditonton. Berhubung dia tak suka film horor indonesia, kita memilih film barat (Guardian of galaxi). Kita memilih tempat duduk yg gak terlalu jauh dari layar, dan gak terlalu dekat dengan layar. Tengah, sepertinya pas.
         Keadaan dalam bioskop cukup tenang, penontonnyapun gak sampai memenuhi kursi, cukup lenggang. Mungkin karna film ini gak terlalu banyak yg meminati, mungkin. Sruuuuut, aku sangat menikmati minumanku, begitupun dengannya yg sebelumnya membeli 2gelas coca-cola. Dalam gelap kita hanya mengheningkan cipta, menghayati alur cerita, sesekali main handphone. Dingin, udara didalam bioskop sangat dingit. Aku lupa mengenakan jaket, hanya memakai kaos berlengan panjang, dan itupun tak setebal kulit sapi. Saat film berlangsung seru, sesekali aku mencuri-curi pandang. Memerhatikan bentuk wajahnya yg cantik, lucu dan gemesin. Arrgh, seandainya dia kekasihku mungkin saja aku sudah menggenggam jemarinya, saling menghangatkan didalam kegelapan. Filmpun semakin seru, dan kita hanya terdiam seolah tak saling kenal hingga lampu-lampu didalam ruangan dinyalakan. Oke, film telah selesai.
              Cukup seru filmnya, dan semoga dia gak merasa jenuh. Kemudian kita keluar dari bioskop dalam keadaan masih hening, dan memegang sisa coca-cola yg belum habis.
"Bagaimana menurutmu tentang filmnya?" *tanyaku memecah keheningan*
"Mbb, cukup seru. Tidak membosankan." *jawabnya yg kemudian diam*
"Kamu lapar? Mau temani mengisi perut sebentar?" *tanyaku untuk sekedar memanjangkan waktu buat bersama*
"Enggak, aku masih kenyang."
"Lalu mau kemana?" *tanyaku yg seharusnya mencari ide lain agar bisa berdua dengannya*
"Langsung pulang saja, udah hampir larut malam."
"Mbb.. Oke deh.."

           Ya Tuhan, apakah yg ada didalam fikirannya. Bagi gadis yg baru aku kenal, gadis yg sangat pendiam, terkesan cuek, namun tetep saja menggemaskan. Iya, aku jatuh cinta. Disepanjang jalan pulang aku mencoba mencari topik perbincangan, dari mengulas lagi film yg baru ditonton, bertanya apakah orang tuanya sudah menyuruhnya pulang, sampai kembali bertanya "Mau makan apah?" yg sebenarnya tujuan utamanya agar kita bisa berlama-lama menikmati malam.

"Ibumu sudah menyuruhmu pulang?"
"Belum.." *jawabnya singkat*
"Oh, syukur deh. Gimana nontonnya? Apa buat kamu bosan? Apa harimu bersama ku menjenuhkan?" 
"Mbb. enggak, biasa saja."
"Mau temenin aku makan? sepertinya perut ini sedari tadi tak henti berbunyi." *tanyaku berharap dia mau menemani*
"Aku masih kenyang, kamu saja yg makan."
"Ahh, gak mau. Aku maunya bareng sama kamu, aku makan dan kamupun makan!"
"Mbb, aku masih kenyang tau. Yasudah, asal jangan lama-lama."
"Mbbb, oke deh. Mau makan apah? Aku lagi ingin menyantap bakso, apa kamu tahu tempat yg enak?"
"Aku jarang keluar rumah, jadi tengok saja disepanjang jalan."
"Oke deh."

          Suasana malam cukup berteman, udara yg tak terlalu dingin, dengan sinar rembulan yg buat malam sangat romantis. Iya, bagi orang yg lagi kasmaran apapun terasa menyenangkan. Disepanjang jalan aku menengak-nengok pinggiran jalan, berharap ada lapak tukang bakso yg masih berjualan. Pait! Sampai didekat gang rumahnya, tak ada satupun tukan bakso yg berjualan. Untungnya dia mengijinkan untuk berbelok arah dari gang rumahnya, mencari tukang bakso yg masih berjualan. Yess, pucuk dicinta ulampun tiba. Setelah melewati beberapa belokan, akhirnya kita menemukan tukang bakso yg masih berharap ada pelanggan. Dengan keadaan perut yg lapar aku langsung memesan, begitupun dengannya yg memesan mie ayam. Lucu, dikios baksopun kita jarang sekali bercakap, hanya sesekali kemudian kembali asik dengan pesanan masing2. Setelah selesain makan aku langsung menghampiri abangnya untuk membayarnya.

"Kenapa cowok itu selalu bayarin cewek?" *tanyanya seolah heran dengan prilaku cowok*
"Mbb, gapapa sih. Bagiku ; kan aku yg mengajakmu keluar, jadi aku penanggung jawabmu seutuhnya."
"Yee, kenapa harus gitu? Memangnya cewek gak bisa bayar?"
"Bukan begitu tha, hanya saja aku terbiasa seperti itu. Masa cowok dibayarin cewek, mau dibawa kemana drajatnya?"
"Mbb,, iya iya.."
"Kamu pasti bakalan capek, kemudian nyerah."
"Cape kenapa? nyerah kenapa? karna ngedeketin gadis seperti kamu?"
"Iya, soalnya dari cowok sebelumnya yg deketin aku sih pada begitu."
"Hahaha, jangan samain aku sama mereka yak. Aku akan berusaha serta membuktikan dari apa yg aku ucapkan. "
"Tapikan kebanyakan begitu, apalagi kamu itu 'Strenger'."
"Apatuh strenger?"
"Orang yg baru aku kenal, yg belum tau batang hingga akarnya, noo.. "
"Hahaha maav maav, aku gak faham soal bahasa seperti itu. Tapi memangnya kenapa kalo aku strenger? bukankah yg membedakan itu cara membuktikan, serta usaha buat kamu jatuh pada pelukku?"
"Noo, kita ini baru kenal. Jadi aku harap kamu bisa mengerti, dan aku sulit untuk membuka hati untuk siapapun."
"Tha, please. Izinkan aku tuk berjuang, izinkan aku tuk membuktikan, dan izinkan aku untuk perlahan mengisi hari-harimu, meskipun aku tahu itu sangat sulit."
"Mbb, yasudah terserah."
"hahaha "...
           Percakapan menjadi hening, entah apa yg dia fikirkan. Mungkin masalalu yg membuat dia trauma dengan "Strenger" (orang yg baru ia kenal). Bagiku tak apalah, yg namanya perjuangan harus ada yg dikorbankan, harus ada yg dinikmati, meskipun pait!
Entahlah, apa yg buat aku begitu yakin bisa memilikinya. Jelas-jelas itu suatu kode jika ia mungkin tak mengharapkanku, tapi apa salahnya jika aku berjuang?
Harapan pasti ada, meskipun untuk mendaki gunung tak bisa dilewati hanya dengan lewat jalan lurus keatas, meskipun sulit untuk bertahan ditengah badai ombak dengan hanya menggunakan perahu nelayan. Pait!
Aku si(strenger) katanya, meskipun menurutku aku ini si(stronger). Apapun hasilnya nanti, aku percaya ; jika Tuhan pasti membantu hambanya yg berusaha hingga titik akhir. Meskipun pait nantinya, tak apa. Bukankah cinta memang harus diperjuangkan? Aku lelaki, dan sebagai lelaki harus membuktikan apa yg ia ucapkan. 

"Oke kita sudah sampai."
"Ayu masuk dulu, mungkin ibuku belum tidur."
"oke.."
"Assalamu'alaikum.." *sapaku saat memasuki rumahnya*
"Wa'alaikum salam.." *ibunya membalas*
"Bu, kenalin. Aku temennya talitha."
"Oh, iya. Tinggal dimana dek?"
"Ciledug bu.. "
"Duuh, jauh juga ya dari sini. Makasih ya sudah mengantarkan anak saya pulang."
"Heheh, ya begitu dah bu. Iya sama-sama bu. Yasudah, saya pamit pulang dulu ya bu, udah malam."
"Oh yasudah, hati-hati ya dek. sekali lagi terimakasih."
"Iya bu, assalamu'alaikum." *kataku sambil menuju keluar rumahnya*
"Tha, aku pulang dulu ya. Kamu langsung tidur, semoga tidurmu lelap. "
"iya noo, hati-hati ya dijalan. "
"*aku hanya melempar senyum, kemudian pergi meninggalkan rumahnya*"

           Hufft, cukup menyenangkan hari ini. Semoga saja esok dan seterusnya masih bisa bertemu dengannya, dan semoga nanti saat bertemu ; aku bukan lagi (Strenger). Setelah kejadian malam itu, cinta semakin tumbuh didalam hati, harapan semakin menggunung terhadapnya. Entah apakah nanti aku bisa menakhlukannya, ataukah bahkan aku tersungkur karna lelah memperjuangkannya. Entahlah, saat ini aku hanya ingin tersenyum penuh kebahagiaan...




 @Noo_stalgia #Cerpen

Kamis, 03 Juli 2014

Siapa Dia?

               Secepat itukah kamu melupakanku? Seolah tak ada bayangku lagi yg menghuni fikiranmu. Semudah itukah dia menggantikanku? Iya, aku yg sebelumnya dengan susah payah mempertahankanmu. Kau bilang "Aku bukanlah type perempuan yg mudah membuka hati". Lantas apakah maksud dari semua ini? Apakah terlalu mudah baginya untuk dapat membuka hatimu itu? Katakan itu tak benar! Lantas dimana kamu menyimpan semua berkas-berkas kenangan yg telah kita bangun bersama? Katakan! Aku ingin mengambilnya, biar aku rawat dengan rapih semua berkas itu.
Kau tahu? Aku serasa terjatuh dari angkasa, membentur bumi hingga kerasnya, saat aku tahu jikalau kamu sudah tak lagi sendiri. Lebih tepatnya hatimu telah dicuri. Bahkan kepalaku seperti terhimpit dua benua. Aku tahu ini berlebihan, namun itu kenyataan!
Siapa dia? Dia yg mengantikan tempatku saat kau lelah lalu bersandar.
Siapa dia? Dia yg merebut senyummu yg dulu sering ku buat.
Siapa dia? Dia yg menghapuskanku dari rumah kecilmu.
Siapa dia? Dia yg mengendalikan dirimu seperti yg kulakukan dulu.
Siapapun dia, aku tak perduli.
Kau ingat? Dulu kita sering berpose bareng dengan tingkah yg aneh didepan camera.
Kau ingat? Dulu akulah orang yg kamu peluk dengan eratnya seraya berkata "Aku tidak mau kehilanganmu".
Kau ingat? Dulu aku yg selalu membuatmu tersenyum riang, sekalipun aku marah tanpa alasan.
Kau ingat? Dulu kita sering menghabiskan waktu malam cuma karna kamu yg selalu insomnia.
Kau ingat? Dulu kala penat mencekik kepala, kau selalu mengajakku menikmati sejuknya udara desa.
Kau ingat? Dulu siapa yg paling mahir mengendalikan situasi kala bosan merusak suasana.
Kau ingat? Dulu sosok pria mana yg rela menemanimu berjam-jam, hanya untuk membantumu memilihkan baju mana yg cocok buatmu.
Apa kau ingat semua itu? Ahh.. Sepertinya kenangan itu sudah kau kubur dalam-dalam, sampai-sampai akupun tak tahu untuk menggalinya.
               Sekarang aku bisa apa? Sepertinya Tuhan tak menakdirkan kita untuk kembali bersama. Namun apa aku salah? Jikaku memohon kepadamu untuk selalu menjaga baik dari setiap kenangan kita? Atau setidaknya mau mengingat-ingat aku kala sepi menghantuimu. 
Siapapun dia, dengan siapapun sekarang kamu bersama, aku turut berbahagia. Meskipun diam-diam aku menangis tak merelakanmu. Pintaku ; sayangilah dia seperti dulu kau menyayangiku, meskipun aku tahu tetap saja aku yg paling kau sayang. Iya kan?
Dengan siapapun kamu sekarang, semoga kesedihan tak lagi datang menyerang. Tak perlu lagi kau perdulikan aku, tak perlu. Biarkan aku menyendiri, mendo'akanmu dari kejauhan, dan bersemoga agar dia dapat menjagamu dengan baik seperti yg selalu ku usahakan dulu. 
Akan ada saatnya nanti untukku meminta maaf padamu. Sebab masih banyak fotomu dalam handphoneku. Kau tahu? Itu karna aku bangga pernah sempat memiliki wanita yg pernah sempat pula melukiskan senyum diwajahku.
Bagai mana denganku? Tak usah kau perdulikan. Aku ini lelaki, biar saja aku mencari, mencari dia yg mencariku jua. Biarlah aku menjadi perindu. Perindu yg mungkin tak mau mengingat siapa yg dirindukan.
Kelak aku akan sangat merindukanmu. Dan aku tak sabar jika nanti kita berjumpa, entah dengan siapa kita bersama, siapakah diantara kita yg senyumnya paling bahagia? Bukan kamu, bukan juga aku. Melainkan Tuhan yg melihat hambanya, yg dulu pernah sempat saling mengirimkan do'a melewatiNya.
Meskipun kita tak lagi bersama, aku harap kamu tak pernah lupa. Jika kita pernah sempat ; Bersama, saling menatap mata, bahkan saling mengobati luka.
Meskipun sekarang aku bukanlah siapa-siapa, bahkan sekarang aku entah dimana, asal kamu tahu ; kita pernah sempat dekat melebihi urat nadi.
Dan disaat kamu benar-benar merindukanku, dengaklah kelangit-langit. Lihatlah bintang-bintang, aku ada diantara salah-satunya.









#Tulisan

Selasa, 17 Juni 2014

Masikah ada aku disana?

        Kau tahu? Setelah kamu benar-benar memilih untuk tidak lagi mengingat-ingat aku, itu jauh lebih menyakitkan ketimbang aku bertahan untuk terus kau ingat. 
        Kau tahu? Semenjak kamu benar-benar memilih pergi, aku jadi sering melukis tangis dipipi.
        Kau tahu? Berada jauh darimu buat aku sangat merindu, tawamu, candamu, bahkan senyummu, kini hanya menjadi bayang semu.

Seringkali aku mencoba membanting arah stir fikiran, dan lagi-lagi itu semakin buat aku tertubruk dalam namamu.
Aku tahu ini pilihan yg sulit bagimu, tapi akan lebih sulit lagi jika aku bertahan dalam ketidakpastian.
Akupun sadar jika aku hanya terlambat. Terlambat lebih dulu masuk kehatimu, hingga terlebih dulu ada yg bertamu. Sepertinya ia sangat betah dihatimu, bahkan kamu sangat memuliakannya.
Lantas bagaimana denganku? Dibalik pagar aku hanya dapat mengintip. Mencoba mencari celah bagaimana caranya agar aku bisa masuk kedalamnya, setidaknya walaupun hanya sekedar berbincang-bincang. ahh... aku tahu, jika aku ini hanya berperan sebagai figuran, tak mungkin aku bisa bermain satu peran sebagai peran utama denganmu. Ngimpi!!
Tetap tenanglah kamu disana, tetap senanglah kamu dengan apa yg ia jamu. Aku cukup menyaksikan kalian dari kejauhan, asalkan dapat melihat kamu tersenyum, tak apalah. Bahagia itu bukan berarti memiliki kan? meskipun aku harus membatin, aku akan coba bertahan sekuat mungkin.
Semakin kesini kita semakin akrab dengan yg namanya "Jarak", saling menyembunyikan perasaan, atau mungkin saling melupakan.
Ketahuilah, saat aku semakin ingin melupakanmu, semakin kuat pula aku ingin memelukmu. Aku tahu, kaupun pasti serupa denganku. Hanya saja kita saling menuruti ego masing-masing, iya kan?
Kau tahu? aku jadi sering menulis, agar kelak jika kau merindukanku, kamu dapat membaca sajak-sajakku ini. Setidaknya kamu dapat mengetahui kabarku, meskipun kamu tak tahu jika dalam tulisanku itu sersisa genangan tetes air mata. 
"Kita" hanyalah aku dan kamu, yg dipertemukan Tuhan namun bukan untuk saling memiliki. Jika suatu saat kau butuh aku, datanglah, temui aku ditempat dimana dulu kita sering menertawakan hal-hal yg konyol. Aku tak akan kemana-mana, masih disini, menantimu pulang sekalipun kau pernah menyakiti.
Katamu "Lupakanlah aku, pergilah mencari yg lebih baik dariku, aku ingin melepasmu dari jerat yg selama ini menyiksamu".
Kau tahu? Itu sama saja kau membunuhku secara perlahan. Sebab aku orang yg tak ahli perihal melupakan. Lantas apa yg harus aku cari? Sedang Tuhan menuntun hati, menemui kamu disini. Dan kaupun tahu jika aku teramat menyayangimu, jadi derita sudah menjadi resiko buatku. Aku percaya ; Tuhan menciptakan cinta bukan hanya ada didalamnya soal "Bahagia", namun lengkap juga dengan "Derita". 
Jadi, mencintaimupun aku terima resikonya, bahkan aku sudah menyiapkan perlengkapan obat, jika kelak aku sakit aku tak butuh bantuanmu untuk mengobati.
Percayalah, Tuhan pandai membolak-bolakan hati. Jadi tak ada salahnya jika aku terus menanti, hingga kelak kau berubah fikiran datanglah kesini.
Namun yg aku takutkan cuma satu. Saat kamu kembali, masihkah ada aku disana? Dibola matamu, juga dihatimu. Aku takut terlalu lama kamu mempertimbangkan diri, sosokku telah pudar bersama silih waktu berganti.
Ahh, waktu memang tak pernah sepakat denganku. Saat bersamamu waktu begitu sangat cepat, dan saat jauh darimu waktu menjadi sangat jahat, lambat.
Tuhan, titipkan rinduku kepadanya. Jagalah ia selagi aku berada jauh darinya, buatlah ia agar pandai menghemat air matanya. Amiin.
Kiranya itulah do'aku kepada Tuhan, yg terus ku lantuntan. Bila kamu bahagia disana, percayalah ; itu salah satu do'aku yg telah Tuhan kabulkan...

Selasa, 10 Juni 2014

Cerita : Percakapan Ayah dan Anaknya..

  • Anak:"Ayah, ayah temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang, maksudnya supaya nyamuk itu tidak akan menggigit anaknya. Apakah ayah akan melakukan hal yang sama ???"
  • Ayah:"Tidak, nak...tetapi ayah akan mengusir nyamuk sepanjang malam supaya tidak menggigit siapa pun !!!"
  • Anak:"Oh ya ayah, aku pernah membaca cerita tentang seorang ayah yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan sampai kenyang. Apakah ayah akan melakukan hal yang sama?"
  • Ayah:"Tidak, nak.. Ayah akan bekerja sekuat tenaga supaya kita semua bisa makan dengan kenyang dan kamu tidak harus sulit menelan makanan karena merasa tidak tega melihat ayahmu sedang menahan lapar!"
  • Sang Anak pun tersenyum bangga mendengar apa yang dikatakan ayahnya... Anak:"Kalau begitu, aku boleh selalu menyandarkan diriku kepada ayah, ya?" Sambil memeluk anak itu sang ayah bekata : "Tidak, nak... Ayah akan mengajarimu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, supaya engkau tidak harus jatuh tersungkur ketika suatu saat ayah harus pergi meninggalkanmu."
  • Orang tua yang bijak bukan hanya berhasil menjadikan dirinya tempat bersandar, tetapi juga yang berhasil bisa membuat sandaran itu tidak diperlukan !!!

Sabtu, 07 Juni 2014

Es cream yang cair...

Jadi, kamu ingin makan apa?
Hal yang selalu ku ucap untuk memancing semangat nafsu makanmu. Aku tahu jika kamu tak sedang diet kan? hanya saja rasa malasmu yang selalu menakhlukan dirimu.
"Lekaslah kamu makan, sayang. Tubuhmu sudah kurus, jangan biarkan kamu menambah siksanya dengan diet seperti itu!"
"Ahh, tidakkah kau lihat berat badanku? atau lamanya jeda temu buat kau lupa akan bentuk tubuhku?"
"Aku serius!! Bagaimana mungkin berat badanmu bertambah, sedang untuk sesuap nasi saja kau tak asupkan?"
"hmm, tengoklah aku sekarang! kan ku buat kau mabuk kepayang saat melihat seksinya diriku saat ini."
"hmm....."

Itulah kamu, kamu yang tak pernah kehabisan kata-kata saat berdebat denganku. Lihat saja, saat bertemu kan ku hancurkan sikap batu mu itu.
Aku tahu betul kamu, disaat seperti ini kamu lagi tak ingin menyantap apa-apa, apalagi yang bersangkutan dengan "nasi". Untungnya soal merayu aku jauh lebih mahir darimu, jadi aku tak perlu repot-repot meminta maav padamu saat bertemu nanti. Agar saat temu nanti tak ada emosi, aku lebih memilih membawakanmu es cream dan cemilan. Sebab bagiku ketika sedang emosi, sangat pas diredakan dengan memakan es cream. 
Entahlah, entah karna apa aku melaju sepedah motorku agak lebih cepat. Rindu, mungkin itulah jawabannya yang memacuku untuk lekas bertemu. 
Sampailahku dirumahmu dengan membawa 2buah es cream dan juga cemilan yang tadi sempat ku beli di supermarket dekat rumahmu.
"Hai nona, selamat malam."
"Malam juga, Tuan. Sepertinya kesibukan yg menjaraki temu, buat kau agak sedikit berbeda."
"Hah, apa itu? mungkin rindumu saja yang terlalu menggunung, sehingga kau melihatku seakan ada yang berbeda."
"Penampilanmu!!"
"Loh, ada apa dengan penampilanku memangnya?"
"Kau terlihat lebih kekar dan menawan, Tuan. Bisakah kau peluk aku sebentar? hanya untuk sekedar menghilangkan rasa rinduku ini."
"Aku mohon, Nona. Tak usah memujiku berlebihan seperti itu. Aku ini sudah jelek, masa harus ditambah jelek lagi ketika ingin bertemu denganmu?  Jika begitu, bagaimana kau bisa nyaman saat memelukku. Lekas mendekat, aku tak sabar mencium bau badanmu."

Tak ku sangka waktu berjalan begitu cepat, sekedar ngobrol membagi cerita saat kita terbatasi jarak, hingga lupa jika tadi aku membawa sesuatu. Ahh... bagiku itu tak begitu penting, asalkan bisa mendengar suaramu, melihat senyummu, aku jadi tak membutuhkan hal-hal yang ribet lagi untuk membuatmu bahagia.
Tak terasa malampun semakin melarut, waktunya aku bergegas pulang, jelas aku tak ingin membuatmu sakit, hanya karna masih ingin menatap manja menghabisakan rindu bersamaku.
"Sesampai dirumah, langsung tidur! inget, jangan bergadang."
"hmm, iya sayang. Kamu tenang aja, dan sepertinya malam ini aku sangat pulas tidurnya, biarkan sisa rinduku terbalaskan olehmu dialam mimpi nanti.
"Oke, kalau begitu kamu hati-hati. Jangan mikirin aku terus, nanti lampu-lampu jalan seakan menyerupai wajahku yang terang."

Belum ada setengah jalan dari rumahmu, akupun teringat sesuatu. Sesuatu yang ada didalam kantong putih bertulisan "Indomart". Astaga!! aku lupa. Bahkan sama sekali tak ingat jika aku membeli sesuatu, saat menuju rumahmu tadi. Dengan cepat aku membuka isi kantong kresek, dan memastikan apa es creamnya sudah cair. Secara berjam-jam aku mendiami escream itu, jelas sudah mencair.
Bodoh memang, saking menikmatinya waktu berdua denganmu, sampai aku terlewatkan sesuatu. Ahh, sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, dan escreampun sudah menjadi air, tak mungkin bisa kembali seperti awal.
Beginilah aku, aku yang ceroboh, aku yang pelupa. Tapi entah kenapa meskipun aku pelupa, aku sangat ingat semua tentang kamu.

Senin, 12 Mei 2014

Surat Untuk PLN
 
 
 
Kepada Yth :
Bapak/Ibu PLN
Di Tempat


Assalamualaikum, wr.wb.
Dengan datangnya surat ini, saya selaku yang mewakili dari masyarakat asli Indonesia mengajukan komplane kepada bapak/ibu PLN. Dikarenakan pemadaman listrik didaerah kami, sejak dari sore tadi hingga sampai larut malam begini.
Bolehkah saya bercerita sedikit? Boleh ya ya ya..
Oke langsung aja pada permasalahan pokoknya. Jadi sewaktu pemadaman bergilir didaerah saya, saya rasa ada yang ganjil. Masa cuma dikampung saya yang dipadamkan hingga larut malam gini? 4 rumah disamping rumah saya tetap aja nyala, kenapa cuma sebagian aja yg dipadamkan? Bukankah sangat tak adil?
Asal bapak/ibu perlu tau, karna tak ada arus listrik dirumah, saya jadi gak bisa nge-chas HP, gak bisa tuiteran, gak bisa masak nasi, dan yg lebih parah saya gak bisa Mandi. Secara listrik mati, airpun tak bisa dihidupi. Terus saya jadi harus meliburkan mencatok rambut saya yg bagus ini, akibatnya seperti rambut singa. Apa bapak mau tanggung jawab?
Emosi saya semakin memuncak dikarenakan padamnya listrik, koneksi jaringan jadi ikut-ikutan ngadat. Pending! Ishh.. Jangankan buat internetan, untuk smsn atau bbmn aja gak bisa. Jaringan diHP cuma bertulisan tiga huruf yg cantik berwarna merah, "SOS"! Kalo sosis sih enak, ya ini!
Entah kenapa dan ada apakah hubungan antara listrik yang mati dengan jaringan yg kusut, saya tak tahu. Pokonya bapak/ibu PLN mesti mengganti rugi! Yg biasanya saya tak pernah absen disocial media, tapi berhubung koneksi gak memungkinkan saya jadi gak bisa "Tuiteran, Facebookan, Bbmn, wattsappan, dan yg lain-lain". Gimana gak kesel coba! Sampai-sampai seseorang diTuiter menanyai kabar saya, katanya begini "Ris lu kemana? dibawa tante-tante yak?". Hmm, sebenernya itu pertanyaan yg gak mesti ditanyakan, tapi berhubung mungkin dia heran karna saya gak nongol diTL, dibbm gak bisa, terpaksa mungkin. Dan akhirnya lengkaplah sudah.
Entahlah ada apa denganmu bapak/ibu PLN, apa mungkin kalian Galau? ya keleuuus. Tapi bisa jadi sih! bisa jadi.
Dzaman sekarang itu aneh, bukan cuma anak2, remaja, aja yg bisa galau, tapi sampai nenek-nenekpun bisa. Bisa..
Pokonya saya gak mau tau, saya kesal dengan pemadaman ini, merugikan saya dan juga masyarakat lainnya. Kan kasihan tukang lampu!

Demikianlah surat yang saya tulis ini, bisa dibilang seperti curahan hati. Semoga bapak/Ibu PLN dapat berkenan untuk membalasnya, setidaknya untuk membacanya. Atas perhatian dan kasih sayangnya saya ucapkan Terima kasih.
Wassalamu'alaikum, Wr.wb.


Hormat Saya



Penggemarmu

Minggu, 11 Mei 2014

Buku Harian Darimu



                Waktu berjalan begitu singkat, sampai sampai mengenalmu begitu cepat. Iya, aku jatuh hati dihatimu tepat.
Mungkin hanya aku saja yg punya perasaan ini, kamu, tidak. Ternyata setelah aku membaca buku darimu yg bisa dibilang itu buku harian atau (Dayri) atau apalah itu aku tak bisa menyebutkannya dengan benar. Intinya buku harian.
Aku baru tahu jika kamu sangat berharap dariku, tak jauh juga dengannya. Ada banyak hal disitu yg telah kamu tulis, bahkan mungkin dengan bercucuran air mata. mungkin!
Dimulai dari kisah bahagiamu yg lagi-lagi dengannya, bukan denganku. Iyalah! jelas dia lebih dulu mengenalmu, dari pada aku.
Nyesek juga sih aku membacanya, tapi tak apalah, setidaknya dia pernah membuat kamu bahagia.
Karna penasaran aku terus memaksakan diri untuk terus membacanya, biarpun itu perlahan mengiris iris kecil hati. Tak apalah! Lagian juga siapa aku? siapa dia? dan siapa kamu?
Bagiku sudah selayaknya seseorang menuliskan hal-hal bahagianya dengan siapapun itu, cuma aku saja yg tak tahu diri.
Lembar demi lembar aku menelusuri tulisanmu itu dengan seksama, dengan hati terluka, dengan rasa iba, begitupun dengan rasa bahagia.
Tunggu dulu. Bahagia? dari apanya?
Yang jelas bukan karna bisa merasakan betapa sakitnya hati kamu, melainkan namaku ikut serta didalam tulisan itu. Walaupun tak sebanyak tulisanmu untuknya, setidaknya kamu tak lupa menulisku. :')
Berawal dari rasa cemburu butamu. Cemburu yg menurutku tak akan ada pada dirimu, secara aku bukan siapa-siapa kamu, kan?
Tapi disitu jelas tertuliskan jika kamu cemburu terhadapku, terhadap mereka yg menggodaku, atau bahkan aku yg genit terhadap mereka. Namun yg buat aku heran kenapa kamu tak mau jujur terhadapku? apa mentang-mentang kamu perempuan jadi malu untuk mengungkapkan? Bukankan apapun yg dipendam itu menyakitkan? ahh.. aku sama sekali tak mengerti apa yg ada difikiranmu.
Berlanjut ke lembar selanjutnya aku merasa senang teramat senang, karna kamu memuji mujiku, kamu merasa nyaman denganku, dan kamu menuliskan seolah berdo'a jika aku tak akan pergi meninggalkan kamu, dan seolah kamu sangat membutuhkanku. Siapa yg enggak seneng coba kalo kita dibutuhkan orang lain? yg enggak seneng itu bagi orang yg munafik.
Bagiku bisa buat kamu tersenyum aja udah seneng, apalagi jika kamu butuhkan? hmm... :)
Namun sayang, tetep aja aku tak bisa memilikimu. Sekalipun kamu merasa nyaman denganku, kamu merasa senang dihiburku. Jelas dihatimu, tetap saja dia orang yg pertama yg paling kamu butuhkan. Walaupun dia sering nyakitin, walaupun dia enggak pernah ngabari, ataupun dia udah selingkuhin, tetep aja kamu pertahanin.
Cinta terkadang memang tak adil. Yang hanya bermain-main tetep dipertahanin, dan yg tulus menyayangi cuma jadi bayangan.
Ada yg lucu sewaktu aku melihat lembaran selanjutnya, itu karna disitu gak cuma kamu aja yg nulis dibuku itu, tapi juga orang lain (Temen). Kenapa harus ada orang lain coba yg menuliskan cerita dia kedalam bukumu itu, bukankah buku harian itu bersifat tertutup atau privasi? ahh, lagi-lagi aku gak tahu apa jalan fikiranmu.
Dan selayaknya buku harian pasti disitu tertulis kisah bahagia, sedih, lucu, semua tertuang disitu, dan kalo dituliskan dari awal kita lahir pasti gak akan cukup jika hanya sebuah buku harian.
Ada banyak hal yg telah kamu tuliskan, dan itu cukup buat ku mengerti tentang apa yg kamu rasain. Bahkan aku menyadari jika kamu itu sosok gadis yg tegar, kuat, tangguh dalam menghadapi dunia yg keras ini.
Karna tulisanmu aku juga mengerti jika hidup itu tak hanya diam duduk melihat dari jendela, melainkan aku juga harus keluar rumah untuk mengetahui hal-hal apa aja yg ada didunia ini.
Tak ada banyak hal yg bisa aku jelaskan, karna buku harianmu itu udah cukup buat aku sangat mengerti, bahwa melihat kamu bahagia itu lebih utama dari pada aku harus memilikimu. Cintamu itu untuknya, namun aku juga berarti untuk menuntunmu bahagia bersamanya.
Aku kesal jika harus berbuat seperti ini, tapi tak apalah, jelas prinsipku "Mencintai itu gak harus memiliki". Biar ku do'akan kamu dari kejauhan, semoga Tuhan menjagamu selalu, dari tangisan, dari hati yg terluka, dan dari hal-hal yg berniat menyakitimu..