Selasa, 17 Juni 2014

Masikah ada aku disana?

        Kau tahu? Setelah kamu benar-benar memilih untuk tidak lagi mengingat-ingat aku, itu jauh lebih menyakitkan ketimbang aku bertahan untuk terus kau ingat. 
        Kau tahu? Semenjak kamu benar-benar memilih pergi, aku jadi sering melukis tangis dipipi.
        Kau tahu? Berada jauh darimu buat aku sangat merindu, tawamu, candamu, bahkan senyummu, kini hanya menjadi bayang semu.

Seringkali aku mencoba membanting arah stir fikiran, dan lagi-lagi itu semakin buat aku tertubruk dalam namamu.
Aku tahu ini pilihan yg sulit bagimu, tapi akan lebih sulit lagi jika aku bertahan dalam ketidakpastian.
Akupun sadar jika aku hanya terlambat. Terlambat lebih dulu masuk kehatimu, hingga terlebih dulu ada yg bertamu. Sepertinya ia sangat betah dihatimu, bahkan kamu sangat memuliakannya.
Lantas bagaimana denganku? Dibalik pagar aku hanya dapat mengintip. Mencoba mencari celah bagaimana caranya agar aku bisa masuk kedalamnya, setidaknya walaupun hanya sekedar berbincang-bincang. ahh... aku tahu, jika aku ini hanya berperan sebagai figuran, tak mungkin aku bisa bermain satu peran sebagai peran utama denganmu. Ngimpi!!
Tetap tenanglah kamu disana, tetap senanglah kamu dengan apa yg ia jamu. Aku cukup menyaksikan kalian dari kejauhan, asalkan dapat melihat kamu tersenyum, tak apalah. Bahagia itu bukan berarti memiliki kan? meskipun aku harus membatin, aku akan coba bertahan sekuat mungkin.
Semakin kesini kita semakin akrab dengan yg namanya "Jarak", saling menyembunyikan perasaan, atau mungkin saling melupakan.
Ketahuilah, saat aku semakin ingin melupakanmu, semakin kuat pula aku ingin memelukmu. Aku tahu, kaupun pasti serupa denganku. Hanya saja kita saling menuruti ego masing-masing, iya kan?
Kau tahu? aku jadi sering menulis, agar kelak jika kau merindukanku, kamu dapat membaca sajak-sajakku ini. Setidaknya kamu dapat mengetahui kabarku, meskipun kamu tak tahu jika dalam tulisanku itu sersisa genangan tetes air mata. 
"Kita" hanyalah aku dan kamu, yg dipertemukan Tuhan namun bukan untuk saling memiliki. Jika suatu saat kau butuh aku, datanglah, temui aku ditempat dimana dulu kita sering menertawakan hal-hal yg konyol. Aku tak akan kemana-mana, masih disini, menantimu pulang sekalipun kau pernah menyakiti.
Katamu "Lupakanlah aku, pergilah mencari yg lebih baik dariku, aku ingin melepasmu dari jerat yg selama ini menyiksamu".
Kau tahu? Itu sama saja kau membunuhku secara perlahan. Sebab aku orang yg tak ahli perihal melupakan. Lantas apa yg harus aku cari? Sedang Tuhan menuntun hati, menemui kamu disini. Dan kaupun tahu jika aku teramat menyayangimu, jadi derita sudah menjadi resiko buatku. Aku percaya ; Tuhan menciptakan cinta bukan hanya ada didalamnya soal "Bahagia", namun lengkap juga dengan "Derita". 
Jadi, mencintaimupun aku terima resikonya, bahkan aku sudah menyiapkan perlengkapan obat, jika kelak aku sakit aku tak butuh bantuanmu untuk mengobati.
Percayalah, Tuhan pandai membolak-bolakan hati. Jadi tak ada salahnya jika aku terus menanti, hingga kelak kau berubah fikiran datanglah kesini.
Namun yg aku takutkan cuma satu. Saat kamu kembali, masihkah ada aku disana? Dibola matamu, juga dihatimu. Aku takut terlalu lama kamu mempertimbangkan diri, sosokku telah pudar bersama silih waktu berganti.
Ahh, waktu memang tak pernah sepakat denganku. Saat bersamamu waktu begitu sangat cepat, dan saat jauh darimu waktu menjadi sangat jahat, lambat.
Tuhan, titipkan rinduku kepadanya. Jagalah ia selagi aku berada jauh darinya, buatlah ia agar pandai menghemat air matanya. Amiin.
Kiranya itulah do'aku kepada Tuhan, yg terus ku lantuntan. Bila kamu bahagia disana, percayalah ; itu salah satu do'aku yg telah Tuhan kabulkan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar