Aku Pengecut
Cinta datang dengan tiba-tiba, buat ku terpuruk merasa terheran-heran.
Aku bingung, dan fikiran ku linglung.
Aku hanya seorang cowok yang bisa dibilang seperti banci, hanya mampu mengagumi dengan cara mencuri-curi.
Seringkali ku bertanya pada cermin, "Apakah ada yang salah dengan ku? jelas cermin tak bisa menjawabnya, hanya bisa menirukan gerakan tubuh ku saat itu".
Aku seperti orang bodoh yg pertama kali jatuh cinta, atau cinta yg pertama kali datang telah sucses membodohi ku.
Dia, sosok yang telah membuat ku mabuk kepayang, bahkan membuat aku terbang seperti layang-layang.
Dia, seperti paku yg telah menancap kuat dihatiku, sangat kuat dan semakin kuat.
Dia, yang dapat membangunkan ku atas semua kekecewaan yang telah aku lupakan.
Dan dia, yang telah sucses buat aku lemah tak berdaya, seperti debu yang tertiup angin tak tersisa.
Aku, apakah yang sebenarnya dirasakan dihati? terasa aneh, membingungkan, bahkan buat aku mati dengan penuh harapan.
Mungkin aku "Cinta", atau hanya mengagumkan ke-Esaan Tuhan, yang tak dapat ku sentuh walaupun perlahan.
Perasaan ku selalu terjerat dengan malu, pabila bertemu mulut ku diam membisu, diriku mati seperti beku.
Cinta memang dapat membuat orang menjadi berbeda, yang tadinya perkasa, bisa saja menjadi lemah tak berdaya.
Begitupun dengan ku, jangankan untuk menyapamu, melihatmupun aku tak bisa.
Aku terlalu lemah untuk mengungkapkan kata-kata. jangankan kata-kata, sepatah katapun tak kuat bibir ini mengecap.
Lalu bagaimana cara ku mengungkapkan rasa? apa aku hanya bisa memendam, dengan sangat dalam, atau akan merasa malu yg begitu mendalam, akibat mataku hanya mampu melihatmu dengan memejam.
Tuhan, jika engkau telah menitipkanku sebuah perasaan, kenapa mulutku tak kuat untuk mengungkapkan? Aku bingung, dan semakin linglung.
Aku ini lelaki, tapi kenapa serupa dengan banci.
Aku terlalu takut, takut sekali. Takut jika aku mengungkapkan, itu hanya dapat kembali kata ejekan. Atau bahkan jika memang rasaku terbalaskan, aku takut menimbulkan ke-kecewaan.
Cinta memang enggak harus memiliki, itu yang selalu mematikan ku untuk mengungkapkan isi hati.
Jelas aku ini terlalu bodoh, belum mengungkapkan tapi sudah mengaku kalah.
Seringkali aku bertanya pada Hati, "Apa yg aku harus lakukan?". Jelas hati itu penasihat yg paling benar, setidaknya mampu membuat aku selalu sabar.
Aku takut, takut pabila aku mengungkapkan, aku tak lagi melihat sesuatu yg selalu aku banggakan. itu ; Senyumnya.
Sedang hati ingin sekali memilikinya, memeluk senyumnya dengan perasaan lega. Namun, kembali malu menguasai rasa, membuat ku tak tergesa-gesa.
Aku takut, takut jika cintaku bertepuk sebelah tangan, sudah pasti yg ku dapatkan hanyalah kekecewaan.
Tuhan. Bantu aku, kuatkanlah aku. jika semua pemikiranku itu salah, maka timbulkanlah keberanian untuk menghilangkan resah.
Apa yang aku rasakan cuma aku dan Tuhan yang tahu. Bukan mereka, apalagi dia.
Aku pengecut, sampai kapanpun aku akan selalu takut.
Kamu, sampai kapan terus bersarang difikiran ku, perlahan kamu jelas akan membunuhku.
Arrgght! itu hanya sebuah perasaan cowok bodoh, lemah. Tapi sedikitpun aku tak menyesalinya, mungkin aku tak mampu memilikimu, tapi rasa ini abadi, terpendam jauh direlung hati. :")
Tidak ada komentar:
Posting Komentar