Ternyata Aku Salah
Hening malam yang begitu mencengkeram, dalam suasana hati yang suram, seketika pandangan seperti buram, mengeram, tersudutkan dalam luka yang begitu mendalam.
Rindu yang tiada henti-hentinya menggerogoti perasaan, dia ; sesosok peri kecil yang telah buat aku terpesona, bahkan hingga aku jatuh cinta. Padanya, yang jelas tak pernah bisa pekka.
Rindu padanya semakin mendalam, seringkali disaat aku memejam,kenapa rupanya terus yang selalu dalam mimpi ku anyam.
Aku ini serupa dengan seekor kucing yang kelaparan lalu mengincar ikan yang sedang dicengkeram kuat oleh kucing lain. Bagaimana aku bisa mendapatkan ikan itu sepenuhnya? tanpa harus berkelahi dahulu dengan kucing tersebut, jelas aku bingung dan semakin bingung. Sedang kucing itu terlebih dahulu mendapatkan, bahkan semakin kuat mencengkeraman. Itu sangat tidak mungkin terjadi, sampai kapanpun aku tak akan mampu memiliki. jelas mana mau seekor kucing mau membagi buruannya itu? apalagi mengikhlaskan seutuhnya buatku, enggak, itu mustahil.
Rasa ini nyata, terlebih dengannya yang juga suka. Aku tau aku salah, bahkan aku tau resikonya pabila aku tak menyerah. Jelas aku tak mau dianggap sebagai perusak hubungan, terkesan sangat mengejamkan.
"Cinta itu memang datang tak terduga, lewat perhatian dan kenyamanan yang buat aku tak menyangka."
Berbulan-bulan telah berlalu, namun rasa itu semakin kuat menggebu-gebu.
senyumannya, canda tawanya, hal yang paling tak bisa ku lupa, bahkan selalu teringat hingga buat resah menjadi lega.
Sesekali aku menangis, bahkan bertanya-tanya " Kenapa saat bahagiaku, tak ada dia untuk melengkapi? sedang dia malah bersenandung dengan kekasihnya."
Bagaimana aku bisa merasakan bahagia, sedang hati terbakar cemburu hingga terluka. Ini memang tak adil, bahkan sampai buat diriku malu seperti kerdil.
Tuhan! bantulah aku untuk menemukan jawaban, aku terlalu bodoh untuk menafsirkan itu dengan kesendirian.
Kata-mu : Rasa nyaman ada setelah aku itu ada.
Kata-mu : Diriku ini sangat berarti dalam hidupmu, bahkan kamu tak mau jika ku hilang.
Dan Kata-mu : Kamu sayang aku, tapi perasaan itu terlebih-lebih untuk dia.
Lalu apa yang harus aku jawab?
Aku bingung tersangat linglung.
Disaat kau bilang cinta jelas aku bahagia, tapi sekejap lunak saat kau sebutkan namanya.
" Kita memang dekat, tapi seutuhnya hati tak mampu melekat. "
Ternyata aku salah! Salah sekali telah menafsirkan jika " Adanya perhatian, berarti adanya perasaan. Mengungkapkan rasa, berarti suka."
Aku salah telah punya pemikiran hina seperti itu. Padahal " Perhatian itu cuma karna sekedar kasihan. Dan rasa yang kau punya itu hanya sekedar rasa, bukan seutuhnya rasa. "
Sudah! Sudahlah. Aku salah, dan aku lelah.
Biarkan aku pergi, lalu mengompres hati.
Dalam gelap ku bersembunyi, sendiri.
#Ga to the Lau : GALAU !